BACAAJA, PAMEKASAN – Drama penyegelan sekolah kembali terjadi di Pamekasan. Kali ini, SDN 2 Tamberu harus tutup sementara gara-gara lahannya diklaim milik warga. Akibatnya, 111 siswanya harus cari tempat baru buat belajar.
Sejak Senin (20/10/2025), suasana di desa itu berubah. Anak-anak yang biasanya ramai di halaman sekolah, sekarang berpencar ke rumah-rumah warga dan tenda darurat.
“Sebagian belajar di rumah warga, sebagian lagi di tenda darurat penanggulangan bencana,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan, Mohammad Alwi, Selasa (21/10/2025).
Penyegelan dilakukan oleh seseorang bernama Ach Rasyidi, yang mengaku sebagai ahli waris dari pemilik lahan tempat sekolah itu berdiri. Ia memasang segel di pagar sekolah pada Minggu (19/10/2025).
Masalah ini ternyata bukan baru. Menurut Alwi, penyegelan pertama terjadi pada Juni 2024. Waktu itu, sempat dibuka lagi setelah pemerintah daerah berjanji memberikan ganti rugi.
Sayangnya, janji itu belum juga tuntas. Akhirnya, Rasyidi kembali datang dan menutup sekolah untuk kedua kalinya.
“Ya, si Rasyidi ini ahli waris dari pemilik tanah sebelumnya. Karena belum ada penyelesaian, ya dia segel lagi,” ujar Alwi.
Kini, para guru dan murid harus beradaptasi dengan kondisi darurat. Proses belajar dilakukan seadanya, tanpa papan tulis, tanpa meja, dan kadang cuma beralaskan tikar.
“Yang penting anak-anak tetap bisa belajar dulu, meski sementara kondisinya begini,” kata Alwi.
Tenda darurat yang dipasang di pinggir jalan jadi ruang kelas dadakan. Suaranya ramai, tapi semangat anak-anak tetap menyala.
Beberapa orang tua bahkan ikut bantu ngatur tempat duduk, bikin suasana belajar tetap nyaman meski panas dan berdebu.
Menurut Alwi, pihaknya lagi berusaha keras untuk mediasi. Negosiasi dengan pihak pemilik lahan masih terus dijalankan.
“Kami sedang upayakan dialog supaya segelnya dibuka. Kasihan anak-anak kalau harus lama-lama belajar di luar,” ujarnya.
Disdikbud juga udah melapor ke Pemprov Jawa Timur. Harapannya, ada jalan keluar yang cepat dan adil buat semua pihak.
Sementara itu, masyarakat sekitar juga ikut prihatin. Mereka bergotong royong bantu menyediakan tempat belajar dan air minum buat para siswa.
“Anak-anak nggak salah, jadi jangan sampai mereka yang kena dampaknya,” kata salah satu warga setempat.
Meski sederhana, suasana di tenda darurat justru terasa hangat. Anak-anak tetap tertawa, meski matahari menyengat kepala mereka.
Beberapa guru terlihat menulis di papan tulis kecil, sambil sesekali bercanda biar suasana nggak tegang.
Alwi menegaskan, apapun hasil negosiasi nanti, pemerintah daerah akan berusaha menjamin hak anak-anak untuk tetap belajar.
“Pendidikan nggak boleh berhenti cuma karena sengketa lahan,” katanya mantap.
Masalah ini jadi pengingat bahwa di balik kata ‘sekolah gratis’, masih banyak urusan tanah yang belum benar-benar beres.
Tapi satu hal yang pasti, semangat anak-anak SDN 2 Tamberu buat belajar nggak bakal bisa disegel. (*)

