BACAAJA, JAKARTA— Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Bob Hasan, baru aja “spoiler” soal RUU yang katanya bakal jadi game changer buat tata kelola Badan Usaha Milik Negara alias BUMN. Namanya cukup futuristik: RUU Daya Anagata Nusantara, atau disingkat Danantara.
RUU Danantara ini ditekankan banget untuk segera masuk daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026. Tujuannya? Gak lain dan gak bukan, untuk “ngerapiin” manajemen BUMN yang selama ini masih tumpang tindih dan terkesan saling tumpuk satu sama lain.
“Kenapa ada Danantara? Ya, biar BUMN kita itu gak acak-acakan. Ini RUU penting banget buat benahi struktur manajerial yang makin kompleks,” ujar Bob Hasan saat Rapat Prolegnas di DPR RI, Kamis (18/9/2025).
Bob juga ngaku kalau Danantara bukan muncul tiba-tiba. Sebenarnya, benih-benihnya udah ada di UU BUMN sebelumnya, tapi sekarang RUU ini harus berdiri tegak sebagai entitas hukum yang lebih jelas dan solid. Pokoknya, RUU ini bakal dilengkapi dan disempurnakan dari sisi naskah akademiknya. Serius, ini bukan sekadar tambal sulam!
Tapi, gak semua anggota dewan langsung “ngeh” soal RUU Danantara ini. Contohnya, Darmadi Durianto dari Baleg DPR bilang kalau dia baru pertama kali denger soal RUU ini dalam konteks Prolegnas 2026. Bahkan dia sempet tanya-tanya, ini maksudnya apaan sih?
Sementara itu, rapat evaluasi dan penyusunan Prolegnas 2026 dipimpin oleh Martin Manurung, Wakil Ketua Baleg. Turut hadir juga Wamenkumham Prof. Eddy Hiariej dan perwakilan DPD. Rapat ini gak cuma bahas RUU Danantara doang, tapi juga menyepakati penambahan 23 RUU baru dalam Prolegnas 2025–2029 dan penghapusan 1 RUU tentang Keadilan Restoratif.
Beberapa RUU yang ikutan nongol di daftar baru ini juga cukup menarik lho, kayak RUU Transportasi Online, RUU Perlindungan Pekerja Ekonomi Gig, dan RUU Satu Data Indonesia. Pokoknya, list-nya makin panjang jadi total 198 RUU + 5 RUU kumulatif terbuka.
Gak ketinggalan, Fraksi-fraksi di DPR – dari PDI Perjuangan sampai Gerindra – sepakat untuk dorong RUU Perampasan Aset, salah satu RUU prioritas yang disebut punya urgensi hukum tinggi. Tapi, Wamenkumham ngasih catatan: hati-hati dong definisinya, karena istilah “perampasan aset” gak umum dipakai di dunia hukum internasional.
Oh ya, total RUU Prolegnas Prioritas 2026 yang disepakati jadi 67 RUU, terdiri dari luncuran RUU 2025 dan beberapa usulan baru. Semua ini akan dievaluasi lagi paling lambat Januari 2026. Tujuannya? Biar legislasinya gak cuma wacana doang, tapi benar-benar jalan!
Nah, balik lagi ke RUU Danantara, kalau beneran lolos dan masuk Prolegnas, ini bisa jadi pondasi baru buat BUMN kita yang selama ini sering kena kritik karena gak efisien dan kurang transparan. Yuk, kita tunggu sama-sama perkembangannya. RUU Danantara, bakal jadi langkah baru atau cuma jargon politik belaka? Kita pantau terus.(*)

