BACAAJA, TEMANGGUNG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim bikin anak-anak lebih sehat, justru meninggalkan trauma di SD Muhammadiyah 1 Temanggung.
Pasalnya, sekolah ini dua kali menerima makanan yang tidak layak konsumsi dari dapur penyedia program. Mulai dari roti berjamur sampai susu yang sudah terasa kecut.
Setelah kejadian itu terulang, pihak sekolah akhirnya mengambil sikap tegas: tidak akan lagi menerima program MBG.
Bacaaja: PDIP Bantah Narasi MBG Tak Pakai Dana Pendidikan: di Perpres APBN Angkanya Jelas
Bacaaja: MBG ‘Ngerampok’ 70 Persen Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK
Kepala sekolah Triana Widiastuti mengatakan keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan banyak hal, terutama kekhawatiran para orang tua murid.
“Ini sudah yang kedua kalinya. Demi kenyamanan anak-anak dan warga sekolah, kami memutuskan tidak menerima MBG,” ujarnya, Selasa (25/2/2026).
Orang tua siswa keberatan dikasih MBG
Menurut Triana, banyak wali murid yang langsung menyampaikan keberatan setelah kejadian itu.
Sebagian bahkan mengirim pesan lewat WhatsApp untuk menyatakan bahwa mereka tidak ingin anaknya lagi menerima makanan dari program tersebut.
Bagi pihak sekolah, suara orang tua tentu tidak bisa diabaikan. “Yang menerima manfaat itu siswa, bukan sekolah. Kalau orang tua sudah tidak berkenan, kami juga tidak bisa memaksakan,” jelasnya.
Sekolah pun memilih menghentikan program tersebut agar kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tetap terjaga.
Masalah makanan dari program MBG ini sebenarnya bukan yang pertama. Insiden serupa pernah terjadi sekitar September tahun lalu. Saat itu dapur penyedia makanan bahkan sempat dihentikan operasionalnya.
Sekolah juga sempat meminta agar layanan makanan dipindah ke dapur lain. Namun pada akhirnya, makanan tetap datang dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama di bawah program Badan Gizi Nasional.
Padahal sebelumnya sudah ada komitmen bersama agar kejadian seperti itu tidak terulang. Tapi kenyataannya, masalah yang sama kembali muncul.
Menu beracun: roti berjamur, susu kecut
Dalam kejadian terbaru, menu yang dibagikan kepada siswa berisi roti basah, kurma, dan susu.
Sekilas roti terlihat normal. Namun ketika dibuka, bagian dalamnya ternyata sudah berjamur. Susunya pun disebut sudah terasa kecut. Beruntung pihak sekolah cepat bergerak setelah mendapat informasi awal.
Guru langsung mengimbau siswa agar tidak memakan makanan tersebut. Meski begitu, tetap ada beberapa siswa yang sempat mengonsumsinya.
“Dari laporan yang kami terima, ada tiga siswa yang mengalami muntah,” kata Triana.
Kapok, tak akan terima MBG selamanya
Setelah dua kali kejadian, pihak sekolah mengaku trauma. Triana bahkan mengatakan dirinya tidak bisa membayangkan jika makanan tersebut sampai dikonsumsi banyak siswa di sekolah. Karena itu, keputusan menolak MBG kemungkinan tidak hanya sementara, tetapi berlaku seterusnya.
Sekolah berharap kejadian ini bisa menjadi evaluasi agar program serupa ke depan benar-benar memastikan keamanan makanan bagi anak-anak.
Karena bagi sekolah, satu hal yang paling penting tetap sama: kesehatan dan keselamatan siswa.


