BACAAJA, DEPOK – Polisi masih mendalami kasus ancaman bom yang sempat membuat geger dunia pendidikan di Depok. Dalam pengusutan ini, penyidik sudah memeriksa tiga orang saksi, salah satunya berinisial K yang diketahui sebagai pemilik alamat email pengirim teror ke sejumlah sekolah.
Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi menjelaskan, pemeriksaan saksi dilakukan untuk mengurai asal-usul ancaman tersebut. “Sudah tiga saksi, termasuk K,” ujar Made, Rabu (24/12/2025).
Selain K, polisi juga memeriksa seorang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dari dua sekolah berbeda. Keduanya dimintai keterangan karena institusi yang dipimpin disebut sebagai almamater K dalam isi email ancaman.
Saat dimintai keterangan, K mengaku tidak mengetahui pengiriman email teror tersebut. Ia menyebut akun email miliknya diduga diretas oleh pihak lain tanpa sepengetahuannya.
Pengakuan itu membuat polisi belum menaikkan status K, dan masih menempatkannya sebagai saksi sambil menelusuri kebenaran alibi yang disampaikan. Penyidik pun bergerak mencari kemungkinan pelaku lain di balik ancaman tersebut.
“Penyidik juga masih melacak melalui nomor ponsel dan mencari informasi terkait pacar K. Namun, belum bisa dipastikan apakah yang bersangkutan terlibat atau tidak,” kata Made.
Di sisi lain, polisi memastikan situasi di lapangan sudah aman. Dari hasil penyisiran di 10 sekolah yang menerima ancaman, tidak ditemukan benda berbahaya maupun barang mencurigakan.
Sebelumnya, ancaman bom dikirim melalui email pada Selasa pagi (23/12/2025). Pesan tersebut berisi luapan emosi pengirim, disertai dugaan persoalan pribadi dan isu pelecehan seksual.
Begitu ancaman diterima, aparat gabungan dari Tim Gegana Brimob, Inafis Polres Depok, hingga Polsek Pancoran Mas langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan menyeluruh.
Hasilnya, seluruh sekolah dinyatakan steril. Polisi pun memastikan tidak ada bom atau bahan peledak, sekaligus melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap pelaku sebenarnya di balik teror tersebut. (*)


