BACAAJA, PURBALINGGA – Siapa sangka gula kelapa kristal organik dari Purbalingga bisa jadi primadona dunia? Produk lokal ini sekarang resmi jadi incaran pasar internasional, dari Amerika Serikat, Belanda, sampai Australia.
Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan kualitas gula kelapa kristal organik asal Purbalingga jauh di atas rata-rata. Bahkan, disebut lebih unggul dibandingkan daerah lain yang juga produksi komoditas serupa.
“Permintaan dunia bisa tembus sampai 8.000 ton per tahun. Dan alhamdulillah, sebagian besar sudah kita layani lewat ekspor langsung,” kata Fahmi setelah melepas 25 ton ekspor ke Amerika Serikat di Pendopo Dipokusumo, baru baru ini.
Nggak main-main, ekspor kali ini jadi bukti kalau produk Purbalingga mampu bersaing global. Dengan label organik dan sertifikasi resmi, gula kelapa ini memenuhi standar ketat pasar dunia. Makanya, makin banyak buyer dari luar negeri yang tertarik.
Pemkab Purbalingga juga gaspol dukung industri ini. Dari fasilitasi sertifikasi organik, pelatihan perajin, sampai menjembatani pelaku usaha biar lebih gampang akses info permintaan pasar internasional.
“Kita akan terus bantu agar produk lokal bisa menembus lebih banyak negara. Sertifikasi itu kunci, jadi harus kita kawal bareng-bareng,” lanjut Bupati Fahmi.
Sementara itu, CV Bunga Palm sebagai salah satu eksportir andalan ngasih kabar gembira. General Manager-nya, Dikta Zanwar Arifin, bilang ekspor gula kelapa Purbalingga udah jalan sejak 2019, dan terus naik pesat sejak 2020.
“Bulan ini aja, 25 ton kita kirim ke Amerika Serikat, plus 12 ton ke Belanda. Nilainya sekitar 60 ribu dolar AS. Demand-nya masih tinggi banget,” jelas Dikta.
Dengan tren yang makin naik, gula kelapa organik Purbalingga bisa jadi salah satu ikon baru Indonesia di pasar global. Dari produk rumahan perajin lokal, sekarang jadi komoditas premium yang bikin bangga. (*)


