BACAAJA, SEMARANG- Polemik seputar Keputusan Dirjen Pendis Nomor 3814 tahun 2024 terus menuai beragam respons, baik dari mahasiswa maupun pihak kampus UI Walisongo Semarang.
Menanggapi isu tersebut, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Walisongo, Hasan Asy’ari Ulama’i memberikan tanggapan singkat namun menunjukkan bahwa situasi saat ini masih dalam masa transisi kepemimpinan.
Baca juga: Merger Jalan, Kaderisasi Jalan di Tempat: Persma UIN Walisongo Mulai Sepi Peminat
Ia menyampaikan bahwa pihaknya sebenarnya telah beberapa kali memberikan penjelasan resmi kepada media melalui bagian kemahasiswaan. “Ke bagian kemahasiswaan saja. Saya sudah berulang kali memberikan rilis ke media soal ini,” ujarnya saat di konfirmasi via WhatsApp, Jum’at (3/4/2026).
Dirinya menegaskan bahwa posisinya saat ini sudah mendekati akhir masa jabatan. Dalam waktu dekat, tepatnya sekitar 7 atau 8 April 2026, akan ada pejabat baru yang menggantikan posisinya. Kondisi ini, menurutnya, membuat kebijakan yang diambil saat ini perlu mempertimbangkan kesinambungan dengan kepemimpinan berikutnya.
“Saat ini saya sudah di ujung jabatan, dan sebentar lagi akan ada pejabat baru. Saya khawatir nanti ada kebijakan baru yang berbeda dengan era sebelumnya,” jelasnya.
Hindari Perbedaan
Ia juga mengisyaratkan bahwa untuk menghindari perbedaan arah kebijakan, sebaiknya publik menunggu keputusan dari pejabat yang akan datang. “Ditunggu saja pejabat baru supaya tidak berbeda-beda,” tambahnya.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa di tingkat pimpinan kampus, respons terhadap kebijakan Dirjen Pendis masih berada dalam fase penyesuaian. Pergantian kepemimpinan menjadi faktor penting yang turut memengaruhi arah kebijakan organisasi kemahasiswaan ke depan.
Baca juga: Dampak Merger 9 LPM, Persma UIN Walisongo Keluhkan Hilangnya Identitas
Di tengah ketidakpastian tersebut, mahasiswa dan organisasi kampus kini berada dalam posisi menunggu kejelasan, sembari tetap beradaptasi dengan perubahan yang sedang berlangsung.
Kebijakan belum jelas, pejabat lama hampir selesai, yang baru belum mulai. Akhirnya semua disuruh nunggu, seolah-olah masalah bisa ikut cuti sampai pimpinan baru datang. (dul)


