BACAAJA, JAKARTA – ementerian Kesehatan mulai mengingatkan publik agar lebih peka terhadap potensi kemunculan Virus Nipah yang belakangan kembali dilaporkan muncul di kawasan Asia Selatan, khususnya India. Walaupun Indonesia masih belum mencatat kasus pada manusia, potensi penyebaran virus ini tetap jadi perhatian serius karena tingkat fatalitasnya tergolong tinggi dan bisa memicu krisis kesehatan bila terlambat diantisipasi.
Virus Nipah dikenal sebagai penyakit menular yang berasal dari hewan dan bisa menjangkiti manusia. Penyakit ini tergolong sebagai zoonotik emerging, yaitu infeksi yang awalnya berkembang pada hewan lalu berpotensi menular ke manusia, bahkan bisa menyebar antar manusia dalam kondisi tertentu.
Sumber utama virus ini berasal dari kelelawar buah jenis Pteropus yang menjadi reservoir alami. Dari kelelawar, virus dapat berpindah ke manusia secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi yang terpapar virus terlebih dahulu.
Penularan juga bisa terjadi lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Buah-buahan yang sudah tergigit kelelawar atau nira yang terkena cairan tubuh hewan tersebut berpotensi menjadi jalur masuk virus ke tubuh manusia tanpa disadari.
Saat seseorang mulai terinfeksi, gejala yang muncul bisa menyerupai infeksi saluran pernapasan biasa. Penderita umumnya mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas yang sering kali dianggap sebagai penyakit umum sehingga berisiko terlambat ditangani.
Selain itu, penderita juga dapat merasakan sakit kepala, nyeri otot, muntah, bahkan penurunan kesadaran. Variasi gejala ini membuat diagnosis awal cukup menantang karena menyerupai berbagai penyakit lain.
Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi Nipah dapat berkembang menjadi radang otak atau ensefalitis. Kondisi ini bisa memicu gangguan kesadaran, kejang, hingga koma yang berujung pada kematian.
Tingkat kematian akibat Virus Nipah tergolong tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka tersebut membuat virus ini masuk kategori penyakit berbahaya yang membutuhkan pengawasan ketat dari sistem kesehatan.
Catatan sejarah menunjukkan wabah pertama Virus Nipah muncul pada 1998 hingga 1999 di Desa Sungai Nipah, Malaysia. Saat itu, wabah menyerang peternak babi dan kemudian menyebar hingga ke Singapura.
Sejak kejadian tersebut, laporan kasus pada manusia terus bermunculan secara sporadis di beberapa negara seperti Bangladesh, India, dan Filipina. Penyebaran umumnya terjadi dalam skala terbatas namun tetap memicu kewaspadaan global.
Dalam rentang waktu 2001 hingga 2026, kasus Virus Nipah lebih sering dilaporkan di Bangladesh dan India. Kedua negara tersebut menjadi wilayah yang paling sering mengalami kemunculan virus ini secara berkala.
Perkembangan terbaru menunjukkan India kembali melaporkan kasus konfirmasi Virus Nipah di Negara Bagian West Bengal. Situasi ini memicu perhatian banyak negara termasuk Indonesia yang memiliki mobilitas penduduk cukup tinggi dengan kawasan Asia Selatan.
Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi di Distrik North 24 Parganas. Seluruh pasien merupakan tenaga kesehatan yang diduga terpapar melalui kontak langsung dengan pasien terinfeksi.
Lebih dari 120 orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien telah diidentifikasi dan menjalani karantina. Proses pelacakan dan investigasi epidemiologi masih terus berlangsung untuk memastikan tidak terjadi penyebaran lebih luas.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi ancaman penyakit menular baru. Upaya deteksi dini dan penguatan sistem surveilans menjadi langkah utama yang terus dilakukan.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menyampaikan bahwa Indonesia masih dalam kondisi aman namun tetap harus siaga. “Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi Penyakit Virus Nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Indonesia dinilai memiliki risiko tersendiri karena letak geografis yang dekat dengan negara yang pernah mengalami wabah. Tingginya mobilitas perjalanan internasional juga membuka peluang masuknya penyakit lintas negara.
Sejumlah penelitian di Indonesia bahkan menemukan bukti serologis serta keberadaan virus pada kelelawar buah. Temuan ini menandakan adanya potensi sumber penularan yang perlu dipantau secara berkelanjutan.
Organisasi Kesehatan Dunia sebelumnya juga menilai risiko penyebaran Virus Nipah ke luar India masih relatif rendah. Meski demikian, kewaspadaan global tetap diperlukan mengingat karakter virus yang berbahaya.
Masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kebersihan makanan dan minuman. Menghindari konsumsi buah yang tidak jelas kebersihannya menjadi langkah sederhana namun efektif dalam mengurangi risiko paparan.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan berat atau keluhan saraf. Deteksi sejak dini dinilai menjadi benteng utama untuk mencegah potensi penyebaran Virus Nipah di Indonesia. (*)


