Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Vilantika Vida Rahayu,  Dari Gadis Ndeso ke Pengusaha Feminin Care Nasional Mengikis Stigma Wong Ndeso
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
EkonomiUnik

Vilantika Vida Rahayu,  Dari Gadis Ndeso ke Pengusaha Feminin Care Nasional Mengikis Stigma Wong Ndeso

Awalnya ia hanya membantu membuat konten dan mempromosikan produk milik orang lain. Dari sinilah ia belajar ritme bisnis digital, strategi penjualan, serta teknik komunikasi dengan konsumen. Meski tidak langsung menghasilkan banyak, pengalaman tersebut memberikan pencerahan. Ia mulai melihat bahwa ruang digital memberi kesempatan besar untuk siapa pun yang mau berusaha.

Nugroho P.
Last updated: November 18, 2025 8:21 pm
By Nugroho P.
8 Min Read
Share
Vilantika Vida Rahayu
SHARE

ISTILAH wong ndeso sering kali dilekatkan pada gambaran tentang ketertinggalan. Banyak orang menilai bahwa mereka yang tinggal di desa identik dengan pola hidup sederhana, minim akses teknologi, dan jauh dari peluang besar.

Namun kenyataan seperti itu perlahan runtuh berkat munculnya generasi muda desa yang mampu menembus batas. Salah satunya adalah Vilantika Vida Rahayu, perempuan muda asal Desa Rawaheng, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, yang kini dikenal sebagai pengusaha sukses dalam bidang produk feminine care.

Vida lahir dan tumbuh di sebuah lingkungan yang dikelilingi persawahan. Suasana pedesaan yang damai menjadi saksi bagaimana ia menjalani masa kecil tanpa ekspektasi berlebihan. Tidak ada anggapan bahwa dirinya kelak akan membangun bisnis sendiri, apalagi bisnis yang berjalan di ranah digital. Kehidupan Vida mengalir sewajarnya, sama seperti kebanyakan remaja desa pada umumnya.

Pendidikan: Melangkah Tanpa Ekspektasi Besar

Ketika memasuki masa remaja, ia memilih melanjutkan pendidikan di sebuah SMK Swasta dengan jurusan Farmasi. Keputusan itu bukan karena ambisi tertentu, melainkan lebih pada pilihan yang populer dan dirasa tepat pada masa itu. Ia membayangkan kelak akan bekerja di apotek atau perusahaan farmasi setelah lulus. Hidupnya dirancang sederhana, normal, dan realistis.

Selepas lulus, Vida menjalani rutinitas bekerja sebagai karyawan. Ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mengikuti arus kehidupan yang ia anggap wajar. Selama beberapa tahun bekerja, ia belum terpikir untuk menjadi pengusaha atau membangun sesuatu secara mandiri. Namun tanpa disadari, berbagai pengalaman itu justru menjadi pondasi mental yang kuat ketika perubahan besar datang.

Pandemi: Titik Balik yang Tidak Terduga

Titik balik itu terjadi saat pandemi melanda. Dunia yang berubah total juga membuka pintu peluang baru—termasuk bagi Vida. Saat banyak orang merasakan keguncangan ekonomi, ia justru melihat fenomena baru: bisnis online berkembang pesat. Dari sinilah rasa ingin tahu Vida muncul. Ia mulai belajar sedikit-sedikit, mencoba bergabung sebagai konten kreator dan affiliator untuk bisnis orang lain.

Awalnya ia hanya membantu membuat konten dan mempromosikan produk milik orang lain. Dari sinilah ia belajar ritme bisnis digital, strategi penjualan, serta teknik komunikasi dengan konsumen. Meski tidak langsung menghasilkan banyak, pengalaman tersebut memberikan pencerahan. Ia mulai melihat bahwa ruang digital memberi kesempatan besar untuk siapa pun yang mau berusaha.

Keberanian Membangun Usaha Sendiri

Namun Vida bukan tipe yang cepat puas. Berbekal pengetahuan dasar farmasi yang ia pelajari di bangku sekolah, ia merasa bisa mengambil peran lebih besar. “Masa selamanya jadi anak buah?” pikirnya. Dari sinilah keberanian itu muncul. Ia ingin memiliki sesuatu yang bisa ia bangun sendiri, sesuatu yang memberi manfaat dan membuka peluang bagi banyak orang.

Langkah pertama tidak mudah. Ia memulai dengan modal terbatas, skill yang seadanya, dan pengalaman yang masih dangkal. Tapi ia memiliki satu hal yang menjadi pembeda: konsistensi tanpa henti. Vida mulai rutin melakukan live setiap hari di media sosial, mempromosikan produk, mengenalkan kegunaan, dan membangun kepercayaan pelanggan.

Bangkit dan Bertumbuh bersama Timnya

Perlahan tapi pasti, hasilnya mulai terlihat. Dari yang awalnya hanya ikut-ikutan, ia mulai bisa berdiri sendiri. Dan pada akhirnya, titik kesuksesan itu datang: Vida berhasil membangun kantornya sendiri. Sebuah tempat yang ia gunakan sebagai pusat operasional untuk penjualan online, penyimpanan produk, hingga ruang live streaming. Dari sebuah kamar kecil, kini ia mengelola bisnis yang mempekerjakan lebih dari empat karyawan tetap.

Karyawan tersebut bukan sekadar tenaga kerja, melainkan partner yang ia bantu secara ekonomi. Ia memberi mereka gaji pokok sekaligus bonus dari hasil penjualan live. “Mereka itu bukan cuma pekerja, tapi bagian dari perjalanan saya,” ujarnya suatu kali.

Penghasilan Dua Digit dari Rumah Desa

Ketika ditanya mengenai penghasilan, Vida hanya tersipu malu. Ia bukan tipe yang suka pamer. Namun dengan lirih ia mengatakan bahwa penghasilannya “dua digit per bulan”. Angka yang sangat besar jika dibandingkan dengan perjalanan awalnya yang serba terbatas. Pencapaian tersebut juga menjadi bukti bahwa seorang gadis desa pun bisa meraih penghasilan besar dari rumahnya sendiri.

Produk Unik: Ammazmore, Feminin Care Berlegalitas Lengkap

Produk yang ia jual juga menarik. Dengan brand Ammazmore, Vida memilih fokus pada produk feminine care. Pilihan yang unik dan tidak biasa, tapi sarat manfaat. Ia ingin perempuan lebih sadar akan kesehatan area intim, dan ia menjadikan produk-produk tersebut sebagai solusi.

Keberanian mengambil pasar yang sangat spesifik membuat Ammazmore cepat dikenal dan diminati, terutama karena produknya sudah memiliki legalitas lengkap sesuai standar BPOM dan pemerintah. “Saya tidak mau menjual produk yang meragukan. Legalitas itu wajib,” tegasnya.

Legalitas & Konsistensi: Dua Pilar Utama

Vida tidak main-main soal legalitas. Menurutnya, bisnis tidak boleh hanya mengejar keuntungan. Kepercayaan konsumen adalah segalanya. Karena itu ia memprioritaskan izin resmi, uji produk, label yang sesuai, hingga proses distribusi yang aman.

Sementara itu, konsistensinya menjadi pilar yang paling kuat. Vida hampir tidak pernah mengambil hari libur. “Kalau saya berhenti sehari saja, rasanya ada yang kurang,” katanya sambil tertawa kecil. Kedisiplinan ini membuat usahanya berkembang cepat.

Rencana Masa Depan: Diversifikasi Produk

Ke depan, Vida tidak ingin berhenti pada titik ini. Ia memiliki rencana untuk memperluas lini produknya. Salah satunya adalah membuat kemasan travel pack dari ukuran 100 ml yang ia gunakan saat ini. Ia juga mengembangkan parfum dengan aroma khas, serta produk-produk lain yang masih berkaitan dengan kesehatan perempuan.

Tantangan dalam Berbisnis dan Cara Vida Mengubahnya Jadi Peluang

Setiap bisnis tentu memiliki tantangan. Vida pun mengaku bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah pengenalan produk. Produk feminine care sering dianggap tabu, sehingga butuh upaya lebih agar masyarakat mau mencoba.

“Awal-awal itu sulit banget. Banyak yang masih malu, banyak yang ragu,” kenangnya.

Selain itu, tantangan persaingan pasar dan munculnya produk serupa juga menjadi ujian tersendiri. Namun Vida memilih untuk tidak gentar.

“Namanya bisnis ya pasti ada tantangannya. Tapi saya selalu mikir, gimana caranya tantangan ini jadi keuntungan buat saya,” ujarnya mantap.

Ia mengubah setiap hambatan menjadi motivasi. Misalnya, ketika banyak produk tiruan muncul, ia semakin memperkuat legalitas dan edukasi pelanggan. Saat promosi kurang efektif, ia memperbaiki pola live dan memperbanyak interaksi. Tantangan-tantangan itu justru membuat strategi bisnisnya semakin matang.

Kisah hidup Vilantika Vida Rahayu adalah pengingat bahwa kata wong ndeso tidak boleh lagi menjadi stigma. Desa bukan penghalang. Kekurangan bukan alasan. Yang membuat seseorang berbeda hanyalah tekad dan keberanian untuk memulai. Dari sebuah sudut kecil di Banyumas, Vida membuktikan bahwa siapa pun bisa sukses asal mau belajar, bekerja, dan tidak menyerah. (*)

You Might Also Like

Pemkot Semarang Kumpulkan Pelaku Wisata Bahas Arah Baru Pariwisata Kota

Dua Mahasiswa Undip Penyandera Intel Jadi Tersangka, Dijerat Pasal Ini

Mark Zuckerberg Bagi Berkat ke Tetangga, Isinya Bikin Melongo

Baleg DPR Dorong RUU Komoditas Strategis, Biar Produk Unggulan Indonesia Makin Kuat di Pasar Dunia!

Duel Bocah Sekolah, Videonya Bikin Heboh Net!

TAGGED:pebisnispengusaha mudaperempuan mandiriusaha dari rumah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pencarian korban hilang dalam bencana longsor di Pandanarum, Banjarnegara. Update Longsor Pandanarum Banjarnegara: 26 Warga Masih Hilang
Next Article Jejak Longsor Cilacap dan Upaya Tanpa Henti Tim SAR

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Awaluddin (batik cokelat) menangis saat dihampiri keluarganya usai sidang vonis di pengadilan, Rabu (11/2/2026). (bae)

Cerita Awaluddin Eks-Sekda Cilacap: Korupsi Demi Ikut Pilkada, Kalah Lalu Masuk Penjara

Rumah warga Deliksari, Gunungpati, Semarang, terlihat sudah miring dan beberapa mengalami tembok retak, Rabu (11/02/2026). (dul)

Triastono Risau Tanah Terus Bergerak, Warga Deliksari Bertahan di Tengah Ancaman Longsor

Wakil Ketua DPRD Jateng dari Fraksi Golkar, M Saleh.

Wacana Peralihan LPG ke DME, M Saleh: Sosialisasi Dulu, Jangan Sampai Bikin Warga Kaget

Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo.

Survei IPI: Ganjar Masuk Tiga Besar Kandidat Capres 2029, Ada Nama Baru Masuk Radar

Terdakwa Andhi Nur Huda duduk di kursi pesakitan saat sidang putusan kasus korupsi BUMD Cilacap, di Tipikor Semarang, Rabu (11/2/2026). (bae)

Ringan Banget Banyak Diskon! Dituntut 18 Tahun, Koruptor Cilacap hanya Dihukum 2 Tahun

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Aipda Robig (berprci), polisi penembak siswa, menyalami ayah korban penembakan, dalam sidang di PN Semarang, Selasa (6/5/2025).
Unik

Aipda Robig Minta Maaf kepada Ayah Korban Penembakan di Hadapan Hakim

Mei 6, 2025
Unik

Nanas Banyak Vitaminnya Tapi Nggak Selalu Ramah, Ini Dia yang Harus Hati-Hati

September 5, 2025
Kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh.
Unik

Skandal Whoosh Warisan Era Jokowi, KPK Cium Korupsi Tanah Negara

November 12, 2025
Unik

Puan: Perwira Muda Harus Jadi Benteng Rakyat yang Cerdas dan Humanis

Juli 23, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Vilantika Vida Rahayu,  Dari Gadis Ndeso ke Pengusaha Feminin Care Nasional Mengikis Stigma Wong Ndeso
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?