BACAAJA< JAKARTA – Kemunculan varian baru COVID-19 lagi-lagi bikin banyak negara pasang radar. Kali ini yang jadi perhatian adalah turunan Omicron bernama BA.3.2, yang mulai dikenal dengan julukan “Cicada”. Varian ini dilaporkan sudah terdeteksi di sedikitnya 25 negara, mulai dari Afrika, Eropa, sampai Asia dan Amerika Utara. Meski belum masuk kategori berbahaya tingkat tinggi, kemunculannya tetap dipantau ketat oleh otoritas kesehatan dunia karena pola penyebarannya yang mulai meluas dan cukup cepat terdeteksi di berbagai wilayah.
Secara asal-usul, varian “Cicada” ini pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada akhir 2024, lalu sempat menghilang dari radar sebelum akhirnya muncul lagi dan menyebar sepanjang 2025. Saat ini, statusnya masih masuk kategori “variant under monitoring”, artinya belum dianggap sebagai ancaman besar, tapi tetap diawasi secara serius oleh lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention. Deteksi varian ini dilakukan lewat berbagai cara, mulai dari sampel klinis pasien, pemeriksaan pelaku perjalanan internasional, sampai pemantauan lingkungan di beberapa negara.
Yang bikin varian ini menarik perhatian para ilmuwan adalah jumlah mutasinya yang cukup “gila”. Berdasarkan kajian yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Infectious Diseases, BA.3.2 punya sekitar 70 sampai 75 mutasi di bagian spike protein—bagian virus yang berperan penting untuk masuk ke sel tubuh manusia. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding varian-varian sebelumnya, sehingga muncul dugaan kalau varian ini bisa lebih pintar “menghindari” sistem imun, baik dari infeksi sebelumnya maupun hasil vaksinasi. Meski begitu, ada juga temuan awal yang menunjukkan kemampuan varian ini menempel ke reseptor paru-paru tidak sekuat varian lain, jadi dampaknya masih terus diteliti.
Kalau soal gejala, kabarnya nggak jauh beda dari COVID-19 yang sudah kita kenal selama ini. Orang yang terinfeksi varian “Cicada” umumnya mengalami batuk, demam, badan lemas, pilek, sampai sakit tenggorokan. Sampai sekarang juga belum ada bukti kuat yang menunjukkan varian ini bikin kondisi pasien jadi lebih parah dibanding varian sebelumnya. Jadi meskipun mutasinya banyak, bukan berarti langsung lebih ganas—setidaknya untuk saat ini.
Para ahli tetap mengingatkan supaya masyarakat nggak panik berlebihan, tapi juga nggak boleh lengah. Langkah-langkah dasar seperti vaksinasi, jaga kebersihan, dan waspada saat kondisi tubuh lagi drop tetap jadi kunci utama. Dengan situasi yang masih terus dipantau, varian “Cicada” ini jadi pengingat kalau pandemi mungkin sudah mereda, tapi virusnya belum benar-benar “hilang” dari peredaran. (*)


