Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Unik banget, Warga Desa Ini Bayar Pajak Pakai Pisang 
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Unik banget, Warga Desa Ini Bayar Pajak Pakai Pisang 

Yang menarik, warga menyebut metode ini juga memperkuat rasa gotong royong. Sebab, setelah setor pajak, mereka ikut membantu menyalurkan hasil panen pisang ke pasar. Jadi, pajak bukan lagi sekadar kewajiban, tapi juga jadi ruang kolaborasi antarwarga.

Nugroho P.
Last updated: September 10, 2025 8:22 am
By Nugroho P.
2 Min Read
Share
Pisang Cavendish.
SHARE

BACAAJA, PONOROGO – Siapa bilang pajak harus selalu dibayar pakai uang? Sebuah desa di Indonesia sukses bikin heboh setelah warganya diperbolehkan membayar Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Perkotaan (PBB-P2) dengan… pisang!

Terjadi di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, warganya membayar pajak dengan pisang. Namun tak sembarang pisang, hanya jenis cavendish saja.

Tradisi unik ini muncul karena sebagian besar warga desa tersebut berprofesi sebagai petani pisang cavendish. Ketimbang kesulitan menyediakan uang tunai, mereka memilih menggunakan hasil panen sebagai alat tukar. Pemerintah desa pun setuju, asalkan nilai pisang yang disetor setara dengan besaran pajak yang wajib dibayar. Pisangnya pun ada nilai tukar per kilogramnya.

“Intinya bukan soal uangnya, tapi soal komitmen warga untuk tetap taat bayar pajak,” kata Barno Kepala Desa setempat.

Fenomena ini langsung viral, bukan hanya karena kreatif, tapi juga jadi bukti nyata kalau kearifan lokal bisa jalan bareng dengan kewajiban negara. Pisang yang dikumpulkan dari warga nantinya tidak mubazir, melainkan dijual kembali oleh desa dan hasil penjualannya disetorkan sebagai penerimaan pajak daerah.

Selain memudahkan warga, cara ini juga membuat pembayaran pajak terasa lebih dekat dan ramah. Bahkan, beberapa warga mengaku lebih semangat membayar pajak karena bisa langsung menyumbangkan hasil kebun mereka tanpa harus ribet menukar jadi uang.

Kisah desa “pajak pakai pisang” ini pun ramai diperbincangkan netizen. Banyak yang menganggap ide tersebut out of the box sekaligus inspiratif, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tak selalu stabil di pedesaan.

Yang menarik, warga menyebut metode ini juga memperkuat rasa gotong royong. Sebab, setelah setor pajak, mereka ikut membantu menyalurkan hasil panen pisang ke pasar. Jadi, pajak bukan lagi sekadar kewajiban, tapi juga jadi ruang kolaborasi antarwarga.

Beberapa pejabat daerah yang berkunjung bahkan kagum dengan inovasi ini. Mereka menilai konsep “pajak non-tunai” berbasis komoditas lokal bisa jadi contoh bagi desa lain yang punya potensi serupa.

Meski sederhana, inisiatif ini berhasil mencairkan suasana formal yang biasanya melekat pada urusan pajak. Hasilnya, warga merasa lebih dekat dengan pemerintah desa dan lebih sadar pentingnya kontribusi untuk pembangunan. (*)

You Might Also Like

Hanya Disini Buka-bukaan Rahasia Buat Sambal Ijo Se Enak Warung Nasi Padang

Mau Wajah Lebih Tirus Tanpa Operasi? Coba 5 Cara Simpel Ini

Angggota DPR Nonaktif Tetap Dapat Gaji dan Tunjangan, ‘Dompet’ Sahroni, Eko, dkk Tetap Aman

Puan Pimpin Rapat Paripurna DPR Persetujuan Uji Kelayakan Calon Deputi Gubernur BI

Isu Menteri Keuangan Masuk RS Bikin Publik Auto Ribut

TAGGED:bayar pajakbayar pajak pakai pisangpajakpisang cavendishviral
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kondisi hutan yang sudah diubah menjadi lahan sawit. Sayangnya, lahan-lahan ini dikuasai oligarki dan sekarang dalam kondisi mangkrak. Menteri Nusron hanya menonton?. Foto: Greenpeace Indonesia 3,1 Juta Hektar Lahan Sawit Ilegal Dibiarkan Mangkrak! Menteri Nusron Cuma Nonton?
Next Article Asam Jawa, Rahasia Dapur yang Bisa Bikin Jerawat Kabur

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pelatih Basket Jateng Diduga Aniaya Pemain, Perbasi Turun Tangan

Luthfi Ingin Bank Jateng Jadi “Bank Sejuta Umat”

HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen

Bukan Sekadar Aspal, Ini Sebab Jalan Majapahit Cepat Rusak

Tradisigila Belum Mau Pulang: Street Love Memories Jadi Album Ketiga yang Penuh Cinta

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

10 Spot Buku Paling Asik di Jogja, dari Kafe Kekinian sampai Perpustakaan Megah

September 11, 2025
Foto: ilustrasi. Seorang warga menggendang anaknya yang masih kecil untuk diajak memulung di tempat pembuangan akhir sampah. Potret kemiskinan di Indonesia.
Unik

Cuma Rp3 Juta Udah ‘Super Kaya’? Kemensos Bikin Netizen Auto Minder & Ngakak

Agustus 16, 2025
Ketua DPR RI Puan Maharani tampil elegan saat menyambut Ketua Parlemen ASEAN pada sidang tahunan DPR-MPR.
Unik

Tampil Elegan dengan Selendang Merah, Puan Sambut Ketua Parlemen ASEAN di Sidang Bersama DPR-MPR-DPD 2025

Agustus 15, 2025
Unik

Ketahuan Palak Cewek, Polisi Pangkat Aiptu Dihukum Guling di Aspal

Juni 28, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Unik banget, Warga Desa Ini Bayar Pajak Pakai Pisang 
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?