BACAAJA, SEMARANG- Pagi itu di SDN Jabungan suasananya kayak mini bazar dadakan. Meja-meja berjejer penuh camilan lokal, madu hutan, sambal botolan, sampai anyaman bambu yang estetik banget buat dekor rumah.
Tapi, di balik ramai jual beli itu, para pelaku UMKM Jabungan lagi belajar hal yang sering bikin pusing kepala: cara nentuin harga jual yang beneran masuk akal. Yup, bukan sekadar “kayaknya segini aja deh” atau “tetangga jual segitu kok.”
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pelaku UMKM dalam Strategi Penentuan Harga melalui Pelatihan dan Market Days” ini digelar oleh Departemen Administrasi Bisnis FISIP Universitas Diponegoro (Undip) di SDN Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, belum lama ini.
Puluhan pelaku UMKM dan petani datang dengan semangat bawa produk dan kalkulator. Dua dosen Undip, Tita Alfaricha, S.AB, MAB dan Intania Effendi, S.Kom, MBA, jadi “coach bisnis dadakan” buat ngajarin gimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) yang benar, biar usaha gak cuma jalan tapi juga untung.
“Banyak yang masih nentuin harga pakai feeling. Padahal, kalau ngerti cara hitung HPP, mereka bisa tahu batas harga yang aman, gak rugi tapi tetap kompetitif,” kata Tita.
Sementara Intania menekankan, kalau harga itu bukan cuma angka, tapi cerita tentang nilai produk. “Kalau produknya punya cerita, kualitas, dan konsistensi, orang gak keberatan bayar lebih,” ujarnya.
Market Days
Setelah sesi teori, langsung praktik lewat Market Days. Sebanyak 21 UMKM lokal buka lapak, dan dalam sehari lebih dari 100 pengunjung datang. Dari hasil pantauan, bukan cuma produk yang laku, tapi juga insight baru soal gimana harga bisa jadi strategi, bukan sekadar angka di label.
Anna, salah satu peserta mengaku, biasanya cuma ikut harga pasar. “Sekarang tahu cara ngitungnya. Jadi lebih pede waktu jualan,” katanya sambil melayani pembeli.
Dari survei panitia, 80 persen peserta sebelumnya belum pernah ngitung HPP, dan 70 persen cuma niru harga kompetitor. Tapi setelah pelatihan, banyak yang mulai pakai rumus sederhana yaitu Harga jual = HPP + (Persentase keuntungan yang diinginkan).
Menurut Tita, pendekatan ini bikin UMKM lebih tahan banting menghadapi naik-turunnya harga bahan baku dan perang diskon di pasar. “Jadi gak asal ikut tren, tapi tahu logika di balik angka,” tegasnya.
Bagi tim Undip, kegiatan ini bukan sekadar program pengabdian masyarakat, tapi upaya nyata “membumikan ilmu bisnis” ke desa. “Kami ingin lanjut ke tahap branding dan pemasaran digital,” tambah Intania. “Strategi harga ini baru awal.”
Kelurahan Jabungan sendiri punya potensi besar di pertanian dan kerajinan rumahan. Pelatihan seperti ini bikin warga sadar kalau ilmu bisnis gak melulu soal teori kampus, kadang cuma butuh kalkulator, niat, dan sedikit keberanian buat pasang harga dengan percaya diri.
Dan kalau kata peserta, sekarang mereka gak cuma menakar harga, tapi juga menakar harapan, bahwa usaha kecil mereka bisa punya nilai besar kalau dikelola dengan bijak. (tebe)


