BACAAJA, DEPOK – Warga Depok lagi dibuat heboh setelah seorang sopir yang bekerja di program Makanan Bergizi Gratis atau MBG diamankan polisi karena kasus narkoba. Pria berinisial A itu ditangkap di kawasan Mampang, Pancoran Mas, setelah polisi menemukan paket sabu saat dilakukan penggeledahan. Kasus ini langsung jadi perhatian karena sosok A diketahui bekerja sebagai pengemudi di salah satu dapur penyedia program makan gratis yang belakangan cukup dikenal masyarakat.
Penangkapan tersebut dilakukan jajaran Polres Metro Depok setelah adanya pengembangan kasus narkotika yang sebelumnya ditangani Polsek Tajur Halang. Polisi awalnya menangkap seorang pria lain berinisial D di wilayah Citayam, Kabupaten Bogor. Dari situlah nama A mulai muncul dan diduga ikut terlibat dalam peredaran narkotika jenis sabu.
Kasi Humas Polres Metro Depok, Made Budi, membenarkan adanya penangkapan tersebut. Menurutnya, A diamankan setelah polisi melakukan serangkaian penyelidikan berdasarkan keterangan dari tersangka sebelumnya. Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mendapati adanya dugaan bahwa A bukan sekadar pengguna, tapi juga ikut menjadi kurir narkoba.
Kasus ini bermula saat polisi menerima informasi terkait penyalahgunaan narkotika di wilayah Tajur Halang. Setelah dilakukan penelusuran, aparat berhasil menangkap D yang disebut bekerja sebagai penjual pecel lele. Saat diperiksa, D mengaku mendapatkan barang haram tersebut dari A. Pengakuan itu kemudian menjadi pintu masuk polisi untuk memburu sosok sopir MBG tersebut.
Polisi lalu bergerak cepat melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap A. Dari hasil pemantauan, aparat akhirnya memastikan keberadaan pria tersebut di kawasan Mampang, Pancoran Mas, Depok. Tanpa banyak drama, polisi langsung melakukan penangkapan dan membawa A untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Saat diamankan, A disebut tidak melakukan perlawanan. Polisi kemudian melakukan penggeledahan terhadap barang bawaan dan pakaian yang dikenakan tersangka. Dari situlah ditemukan satu paket sabu dengan berat sekitar 1,03 gram yang disimpan dalam plastik klip kecil, kemasan yang biasa dipakai dalam transaksi narkotika.
Penemuan barang bukti itu langsung memperkuat dugaan keterlibatan A dalam jaringan peredaran sabu. Polisi menyebut kemasan yang digunakan memang identik dengan pola distribusi narkoba skala kecil. Dari pemeriksaan sementara, A juga mengakui dirinya memakai sabu sekaligus ikut menjadi kurir barang tersebut.
Kasus ini sontak bikin banyak warga sekitar kaget. Soalnya, program MBG selama ini identik dengan kegiatan sosial yang bertujuan membantu pemenuhan gizi masyarakat. Namun di balik aktivitas itu, ternyata ada sosok pekerja yang justru terseret kasus narkotika. Situasi tersebut langsung memunculkan berbagai reaksi dari warga yang ikut prihatin.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa penangkapan ini murni hasil pengembangan kasus narkoba dan tidak berkaitan dengan program MBG secara keseluruhan. Polisi juga memastikan proses hukum tetap berjalan sesuai aturan tanpa melihat profesi tersangka. Fokus utama aparat saat ini adalah membongkar jalur distribusi sabu yang melibatkan beberapa nama.
Menurut Made, pengungkapan kasus ini menunjukkan pentingnya informasi dari masyarakat dalam membantu polisi memberantas peredaran narkotika. Banyak kasus narkoba yang akhirnya berhasil diungkap justru bermula dari laporan warga yang curiga terhadap aktivitas tertentu di lingkungan mereka.
Karena itu, polisi meminta masyarakat tidak ragu melapor jika menemukan indikasi penyalahgunaan atau transaksi narkoba di sekitar tempat tinggal mereka. Setiap laporan yang masuk nantinya akan ditindaklanjuti dan dikembangkan untuk mencari kemungkinan adanya jaringan lain yang lebih besar.
Saat ini A masih ditahan di kantor Polsek Tajur Halang untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain yang terhubung dengan tersangka. Tidak menutup kemungkinan bakal ada pengembangan baru dari kasus tersebut.
Di sisi lain, kasus ini kembali jadi pengingat bahwa penyalahgunaan narkoba bisa menyasar siapa saja, tanpa memandang pekerjaan maupun lingkungan sosial. Dari pedagang kaki lima sampai pekerja program sosial, semua tetap bisa terjerat jika terlibat dalam peredaran barang haram tersebut.
Peredaran sabu sendiri masih menjadi salah satu kasus narkotika yang paling sering ditemukan aparat di wilayah Jabodetabek. Modusnya pun makin beragam, mulai dari transaksi langsung sampai sistem tempel yang sulit terdeteksi. Karena itu, polisi terus meningkatkan patroli dan pengawasan di sejumlah titik rawan.
Kini, kasus sopir MBG yang ditangkap karena sabu itu masih terus dikembangkan polisi. Warga pun berharap pengungkapan ini bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan narkotika yang lebih luas di wilayah Depok dan sekitarnya, sekaligus memberi efek jera bagi pelaku lain yang masih nekat bermain barang terlarang. (*)

