BACAAJA, SURAKARTA – Malam itu, Keraton Kasunanan Surakarta tampak sendu. Di antara temaram lampu minyak dan harum dupa yang menari di udara, suasana duka terasa menyelimuti tiap sudut bangunan tua itu.
Sinuhun Pakubuwono XIII, sang pemimpin, telah berpulang pada Minggu (2/11/2025). Kabar kepergian beliau menyentuh hati banyak orang—dari abdi dalem, keluarga besar, sampai masyarakat yang masih menaruh hormat pada tradisi dan kebijaksanaan raja Surakarta.
Namun, di balik duka yang mendalam, pertanyaan besar mulai muncul: siapa yang akan melanjutkan tahta Keraton Surakarta Hadiningrat? Sebab di istana, setiap peralihan kekuasaan selalu menyisakan kisah dan ujian tersendiri.
Di tengah keheningan, suara lembut putri sang raja, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai, menembus sunyi. Ia berbicara bukan dengan nada kekuasaan, tapi dengan kasih seorang anak yang ingin menjaga warisan ayahnya.
“Semoga tetap rukun, seperti yang didawuhkan Sinuhun. Karena ada dua putra laki-laki, saya berharap semua satu suara dan saling mendukung,” ujar GKR Timoer penuh harap.
Baginya, warisan terbesar dari sang ayah bukanlah tahta atau pusaka keraton, melainkan kerukunan keluarga. Ia ingin agar semua yang ditinggalkan Sinuhun tetap guyub, sejalan dengan nilai luhur yang selalu dijaga di balik dinding megah keraton.
Perkataan GKR Timoer terasa menggema di ruangan tempat banyak kenangan tersimpan. Seakan jadi pengingat bahwa kejayaan keraton akan terus hidup selama warganya rukun.
Bagi masyarakat Solo, wafatnya Sinuhun bukan hanya kehilangan seorang raja, tapi juga sosok penjaga adat dan keseimbangan batin di tengah hiruk pikuk zaman modern.
Bayang Putra Mahkota dan Suksesi Lama
Jauh sebelum kabar duka ini datang, arah suksesi sebenarnya sudah pernah disampaikan secara resmi. Pada upacara Tingalan Dalem Jumenengan tahun 2022, Sinuhun PB XIII mengangkat salah satu putranya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya, sebagai putra mahkota.
Dalam upacara sakral itu, nama baru pun disematkan: Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram. Sebuah nama panjang yang sarat doa dan tanggung jawab besar.
Masyarakat menaruh harapan agar sang putra kelak bisa meneruskan kepemimpinan ayahnya dengan kebijaksanaan dan keteduhan khas keraton.
Pada momen yang sama, permaisuri Sinuhun, BRAy Asih Winarni, dinobatkan sebagai Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono XIII—sosok yang setia mendampingi sang raja hingga akhir hayat.
Dua Arah, Satu Tahta
Namun, sebagaimana kisah lama keraton, jalan menuju suksesi tak selalu lurus. Setelah pengangkatan Purbaya, Lembaga Dewan Adat (LDA) muncul dengan pandangan berbeda.
Menurut LDA, masih ada pertimbangan lain yang perlu dilihat untuk menentukan pewaris tahta. Maka pada 24 Desember 2022, mereka memberi gelar baru kepada KGPH Mangkubumi sebagai KGPH Hangabehi.
Langkah itu menjadi tanda bahwa arah suksesi kembali memiliki dua arus—sebuah dinamika yang sudah sering terjadi dalam sejarah panjang Kasunanan Surakarta.
Namun, di tengah riak perbedaan itu, semangat untuk menjaga kehormatan adat tetap kuat. Semua pihak sepakat, jangan sampai perbedaan pandangan mencederai marwah keraton.
Di Balik Duka, Ada Warisan
Kini, setelah Sinuhun berpulang, tanggung jawab besar ada di tangan generasi penerus. Bukan hanya menjaga pusaka dan gelar, tapi juga menjaga keharmonisan batin keraton.
Keraton Surakarta adalah simbol kebudayaan yang hidup. Setiap gerak tari, setiap gamelan yang ditabuh, hingga setiap doa yang dilantunkan di pendapa, adalah napas panjang dari leluhur yang tak boleh padam.
Harapan GKR Timoer agar semua pihak tetap bersatu terdengar seperti doa yang mengalir tenang, menembus dinding tebal istana.
Baginya, menjaga warisan bukan berarti mempertahankan kekuasaan, tapi menjaga keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sebab di mata rakyat, seorang raja hidup bukan hanya karena mahkotanya, tapi karena nilai yang diwariskannya.
Malam semakin larut, aroma bunga melati dan kemenyan masih memenuhi udara. Di dalam keraton, doa terus dipanjatkan, bukan hanya untuk kepergian Sinuhun, tapi juga untuk masa depan Kasunanan Surakarta.
Dan di antara bisikan doa itu, suara lembut GKR Timoer terasa kembali: “Semoga rukun, semoga satu suara.”
Pesan itu seperti cahaya kecil di tengah duka—mengingatkan bahwa seindah apa pun sejarah, yang membuatnya hidup adalah hati yang tetap damai. (*)


