Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.
Media sosial, terutama TikTok dan Instagram, turut mempopulerkan “hadiah untuk diri sendiri” yang identik dengan barang atau aktivitas berbiaya mahal.
Istilah self-reward menjadi sangat populer, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, di media sosial. Setelah ujian dan tugas menumpuk selesai, atau sekadar berhasil berangkat pagi saat ada kelas pagi, banyak dari kita merayakannya dengan membeli kopi, jalan-jalan, atau sekadar meluangkan waktu untuk me time.
Pertanyaannya: apakah self-reward benar-benar merupakan kebutuhan psikologis, atau hanya sekadar mengikuti tren di media sosial?
Pada dasarnya, manusia memang membutuhkan penghargaan atas usaha diri sendiri, yang dalam psikologi dikenal sebagai self-reinforcement. Self-reward menjadi penting karena ini adalah bentuk apresiasi terhadap kerja keras yang telah kita lakukan.
Lebih dari sekadar hadiah kecil, self-reward dapat menjadi cara untuk mencintai diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa energi yang berkurang saat belajar berjam-jam, mengerjakan tugas hingga larut malam, atau menghadapi jadwal kuliah yang padat patut diapresiasi, semua itu semua perlu mendapat apresiasi yang setimpal.
Memberi jeda berupa hadiah sederhana dapat memulihkan semangat sekaligus mencegah burnout. Namun, masalah muncul ketika self-reward yang awalnya merupakan kebutuhan berubah menjadi gaya hidup konsumtif. Media sosial, terutama TikTok dan Instagram, turut mempopulerkan “hadiah untuk diri sendiri” yang identik dengan barang atau aktivitas berbiaya mahal.
Lama-kelamaan, terbentuklah pola pikir bahwa self-reward harus berupa pembelian suatu barang atau perayaan berupa menghadiahi diri dengan liburan atau jalan-jalan. Padahal, inti self-reward bukanlah konsumsi, melainkan penghargaan terhadap diri sendiri.
Pelajar dan mahasiswa menjadi kelompok yang paling rentan terjebak dalam pola tersebut. Ketika tekanan akademik meningkat, dorongan untuk “merayakan diri” pun ikut naik.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang melakukan self-reward tanpa mempertimbangkan kondisi finansial, bahkan sampai menggunakan paylater atau berutang kecil-kecilan. Alih-alih mereka sedang memulihkan energi, perilaku ini justru menciptakan beban baru dan menambah stres.
Di sisi lain, ada banyak bentuk self-reward yang lebih sehat, hemat, dan tetap bermanfaat seperti tidur lebih awal, menghabiskan waktu dengan teman dekat, menonton film, berolahraga, atau sekadar tidak menyentuh tugas selama beberapa jam. Cara-cara tersebut lebih realistis serta lebih dekat dengan tujuan awal self-reward yaitu dengan merawat diri, bukan menguras dompet.
Jadi, apakah self-reward itu tren atau kebutuhan?
Jawabannya keduanya. Self-reward memang dibutuhkan karena menjadi cara sederhana untuk memulihkan energi dan menghargai usaha diri. Hadiah kecil membantu menurunkan stres dan menjaga motivasi, terutama ketika tuntutan akademik terasa berat.
Di sisi lain, budaya media sosial sering mengubah self-reward menjadi tren konsumtif. Yang tadinya berbentuk istirahat atau aktivitas sederhana, berubah menjadi kewajiban membeli sesuatu agar dianggap “mengapresiasi diri”. Di sinilah batas antara kebutuhan dan gaya hidup mulai kabur.
Karena itu, tantangannya adalah mengembalikan makna self-reward agar tidak sekadar mengikuti tren. Self-reward yang sehat tidak harus mahal. Intinya bukan apa yang dibeli, tetapi bagaimana kita menghargai diri secara sadar. Dengan cara tersebut, self-reward benar-benar menjadi bentuk pemulihan, bukan dorongan konsumsi semata.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


