BACAAJA, JAKARTA – Pemerintah baru aja launching program kece bernama Sekolah Rakyat. Program ini gak main-main, soalnya tujuannya jelas banget: kasih akses pendidikan gratis buat anak-anak supaya gak putus sekolah. Nah, ini langkah strategis yang diharapkan bisa ngurangin angka kemiskinan lewat pendidikan, bukan cuma bantuan tunai doang yang selama ini dirasa kurang berdampak signifikan.
Abdul Fikri Faqih, anggota Komisi X DPR RI, bilang kalau Sekolah Rakyat bukan cuma sekolah biasa. Sekolah ini didesain untuk mencetak lulusan yang gak cuma pintar secara akademik, tapi juga punya keterampilan hidup, pola pikir positif, dan nilai-nilai luhur. Dengan begitu, para siswa diharapkan bisa jadi pribadi yang mandiri dan mampu mengangkat keluarganya keluar dari lingkaran kemiskinan. Mantap, kan?
Visi Sekolah Rakyat sendiri cukup ambisius, yaitu jadi agen perubahan dalam keluarga miskin melalui pendidikan berkualitas. Misinya? Jelas: kasih pendidikan yang siapin siswa buat lanjut sekolah, tanamkan sikap pantang menyerah, bangun jiwa kepemimpinan, rasa cinta tanah air, dan tentunya karakter berbudi pekerti luhur yang kuat.
Program ini terbuka untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, dan sasaran utamanya anak-anak dari keluarga yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Fokusnya? Ya jelas dari SD sampai SMA supaya kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa makin oke.
Kurikulum Sekolah Rakyat juga lengkap banget. Ada program persiapan buat siapin fisik, mental, dan akademik siswa, program akademik yang mengikuti standar nasional dengan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta program asrama buat mendukung kehidupan belajar yang lebih nyaman dan fokus.
Fokus Peningkatan Kualitas
Sementara itu, revisi RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) juga terus dibahas. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bilang RUU ini fokus ke peningkatan kualitas dan akses pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Jadi, nggak cuma sekolah dasar sampai menengah, tapi juga pendidikan tinggi harus bisa dijangkau semua kalangan.
Hebatnya, UU ini juga mau mengatur soal profesionalitas dosen dan tenaga pendidik, baik di negeri maupun swasta, supaya kesejahteraan mereka meningkat dan mereka punya ruang inovasi yang luas. Menurut Hetifah, peraturan yang bagus itu harus realistis dan bisa diterapkan, apalagi kalau mau melibatkan perguruan tinggi swasta.
Pembahasan RUU Sisdiknas masih berjalan dengan berbagai konsultasi publik dan diskusi intens. Setelah harmonisasi dengan Badan Legislasi DPR, nanti RUU ini akan jadi inisiatif DPR untuk dibahas bersama pemerintah.
Pokoknya, semua langkah ini sejalan banget buat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia secara merata dan memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Gimana, semangat belajar makin membara kan buat generasi muda kita?(*)


