David Setiawan adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Sebuah animasi terhampar di dinding. Animasi itu menampilkan gambaran Semarang yang pada masa itu belum terbentuk dan masih berupa hamparan laut.
Tak pernah terlintas di benak saya jika pada Minggu pagi itu, saya harus menulusuri tiap ruas jalan di Kota Lama Semarang. Memikirkan Semarang dengan “lima matahari”-nya saja sudah membuat kita menghela napas panjang. Untungnya perjalanan ini tak terlalu membosankan karena aku ditemani rekan kuliahku yang punya ketertarikan pada bangunan dan arsitektur kolonial.
Tepat pukul 10.15 WIB, kami mulai melangkah dari Taman Srigunting, jantung Kota Lama, menyusuri jalan Letjen Suprapto hingga tiba di jalan Cendrawasih. Kami berbelok kanan dan menelusuri jalan ke arah selatan. Belum sampai ke ujungnya, kami berhenti di dekat bangunan kecil di tengah Bundaran Bubakan, Purwodinatan. Struktur bangunan itu berbentuk persegi panjang dan memiliki tangga lebar di sisi kiri yang menuju ke atap.
Gedung itu berfasad batu bata merah, mengingatkanku pada era kerajaan dahulu. Di sisi kiri bangunan terdapat tulisan besar “Museum Kota Lama”. Bundaran tempat museum itu berdiri dahulu spot air mancur yang akan dilakukan revitalisasi oleh pemerintah setempat pada tahun 2018 untuk dijadikan taman. Namun, dalam proses konstruksinya ditemukan situs bangunan kuno yang di mana bangunan tersebut teridentifikasi sebuah depo, atau bengkel kereta api.
Setelah diteliti lebih lanjut, teryata terkuak depo loko trem tersebut merupakan depo pertama di Hindia Belanda, kepunyaan salah satu maskapai kereta apian Belanda yaitu Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Temuan itu kemudian menginspirasi pembangunan Museum. Maka jadilah museum Kota lama Semarang.
Sebelum masuk museum kami disuguhi patung logam setinggi 450 meter yang menyerupai mata panah raksasa. Mata panah itu terinspirasi dari Bastion Amsterdam pada sudut tenggara tembok Kota Lama. Di bawah patung, tepatnya di pelataran museum, terpacak desain jembatan kaca yang membentang panjang di atas kolam.
Satu jam lamanya mengamati situasi di sana. Jam menunjukkan pukul 11.05 WIB, aku dan temanku memutuskan untuk mendekat ke pintu museum dengan harapan bakal mengetahui setiap senti sejarah bangunan itu. ”Selamat siang ada yang bisa kami bantu kak,” ucap dua perempuan yang sedang berdiri di bagian repsionis.
”Oh, maaf. Ijin, Kami dari jurnalis kampus ingin observasi sembari ikut tour museum Kota Lama Semarang,” ujar kami. Setelah registrasi, dua perempuan ramah tadi menyarankan kami untuk lepas sepatu dan masuk ke ruang boks persegi yang kerap disebut ruang imersif.
”Imersif adalah teknologi yang bisa membuat dinding ruang menampilkan video virtual. Video yang ditampilkan akan membuat pengunjung merasa seolah-olah berada di dimensi lain,” kata tour guide Greisha saat menjelaskan teknologi Imersif di depan resepsionis.
Selanjutnya sesuai arahan pemandu, kami berdua duduk di depan pojok ruangan. Seketika lampu di ruangan itu mati total. Gelap. Kelap kelip warna lampu keluar dan berputar, seperti tempat disko tapi bedanya ini berasal dari dinding bukan dari lampu yang menyala.
Sebuah animasi terhampar di dinding. Animasi itu menampilkan gambaran Semarang yang pada masa itu belum terbentuk dan masih berupa hamparan laut. Hingga terjadi peleburan pulau-pulau kecil secara perlahan dan sistematis. Akibat peleburan tadi, terciptalah dasar kota Semarang. Sampai abad ke 15, Kota Lama Semarang masih berbentuk kepulauan yang garis pantainya berada di Sam Poo Kong, tempat Laksamana Cheng Ho berlabuh.
Animasi tersebut lalu berpindah dan menampilkan gambaran semak belukar pada akhir abad 15. Berlanjut ke Kerajaan Demak yang mengutus Kyai Ageng Pandanaran atau kerap dipanggil Sunan Pandanaran untuk pergi ke Pulau Bergota, salah satu pulau Semarang kala itu. Sesampainya di Pulau Bergota, beliau melihat pepohonan asem Jawa yang tumbuhnya jarang. Sunan Pandanaran menyebut tempat tersebut dengan istilah “Semarang” yang artinya “asem arang- arang”.
Sesudahnya Sunan Pandanaran I disebut sebagai pendiri Semarang dan kekuasaan dilanjutkan oleh Pandanaran II sebagai penerus pemimpin kota kedua. Di bawah kepemimpinan Pandanaran II, Kota Semarang tumbuh pesat sehingga Semarang dijadikan sebagai kabupaten pada 2 Mei 1547 yang kemudian dirayakan sebagai hari jadi kota Semarang hingga sekarang.
Setidaknya itulah yang dijelaskan oleh penuturan pemandu yang tempo bicaranya cepat dan memburu. Petualangan kami di museum berakhir setelah melihat beberapa artefak kuno serta situs bangunan depo loko trem yang memang disajikan untuk para pengunjung di bagian akhir. Tidak lama kami berada di dalam museum. Kami bergegas ke luar, melanjutkan perjalanan menyelusuri Kota Lama Semarang dengan berbagai cerita dan sejarah di baliknya.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


