BACAAJA, SEMARANG – Banjir bandang dan sejumlah bencana lain menerjang berbagai wilayah di Jawa Tengah, dalam beberapa waktu belakangan.
Sejumlah sekolah ikut rusak, ruang kelas terendam, dan aktivitas belajar otomatis terganggu. Sekolah terpaksa diliburkan.
Di tengah situasi darurat seperti ini, satu hal jadi sorotan: anak-anak terdampak bencana jangan sampai kehilangan akses pendidikan yang layak.
Bacaaja: Dampak Banjir di Jateng, M Saleh: Pemulihan Pendidikan Nggak Boleh Nunggu Lama
Bacaaja: Disertasi Saleh Terkait Keadlian Ekologis PSN Tuai Apresiasi Akademisi
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengingatkan bahwa sektor pendidikan nggak boleh ikut ‘lumpuh’ hanya karena bencana datang.
“Untuk pemulihan sektor pendidikan, perlu dipikirkan percepatan perbaikan sekolah dengan segala sarana dan prasarananya. Kita harus bergerak cepat dan serius,” tegasnya, Sabtu (21/2/2026).
Sekolah rusak, hak pendidikan anak jangan ikut mandek

Kerusakan bangunan sekolah berarti lebih dari sekadar tembok retak atau meja kursi hanyut. Buat anak-anak, itu bisa berarti kehilangan rutinitas, kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan semangat belajar.
Saleh menekankan, jangan sampai keterlambatan penanganan bikin siswa makin tertinggal. Pendidikan adalah hak dasar, dan kondisi darurat seharusnya justru bikin semua pihak bergerak lebih cepat.
Menurutnya, di lokasi pengungsian harus segera disiapkan ruang kelas darurat lengkap dengan perlengkapan belajar. Bukan cuma buku dan papan tulis, tapi juga dukungan psikososial.
Karena realitanya, anak-anak yang baru saja mengalami banjir bandang nggak cuma butuh pelajaran matematika atau bahasa Indonesia. Mereka juga butuh pemulihan mental supaya bisa kembali fokus dan percaya diri.
Sekolah dalam kondisi bencana bukan cuma tempat belajar, tapi ruang aman untuk bangkit.
Perlu kolaborasi berbagai pihak
Saleh juga menegaskan pemulihan pendidikan nggak bisa dibebankan ke pemerintah saja. Perlu kolaborasi dengan swasta, relawan, organisasi sosial, sampai lembaga keagamaan supaya prosesnya lebih cepat dan tepat sasaran.
“Upaya pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana harus terus dilakukan dengan mengedepankan semangat optimisme dan gotong royong,” ujarnya.
Keberhasilan pemulihan, kata dia, bukan cuma soal sekolah buka lagi secara administratif. Tapi apakah anak-anak merasa aman datang ke kelas, berani berinteraksi lagi, dan perlahan kembali menyusun mimpi mereka.
Evaluasi di lapangan pun harus terus dilakukan. Jangan sampai pemulihan cuma jadi laporan di atas kertas.
Karena di balik angka kerusakan dan data sekolah terdampak, ada ribuan anak yang masa depannya nggak boleh ikut hanyut bersama banjir atau ikut tertimbun longsor. (*)


