BACAAJA, TEGAL – Minggu malam (1/3/2026) jadi momen yang nggak bakal dilupain banyak orang di perbatasan Kota dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Empat pemuda dilaporkan menceburkan diri ke Sungai Ketiwon. Tiga di antaranya ditemukan meninggal dunia, sementara satu lainnya selamat.
Kapolres Polres Tegal Kota, AKBP Heru Antariksa Cahya, menyampaikan belasungkawa buat keluarga korban saat konferensi pers, Selasa (3/3/2026). Ia menegaskan, pihaknya ikut berduka atas kejadian tragis tersebut.
Berawal dari Penertiban Sabung Ayam
Sebelumnya, Minggu sore, tim Satreskrim melakukan penertiban dugaan judi sabung ayam di Kelurahan Panggung, Kota Tegal. Operasi itu dilakukan berdasarkan laporan warga.
Saat petugas datang, aktivitas sabung ayam sudah bubar. Polisi mengamankan barang bukti berupa belasan sepeda motor dan ayam aduan beserta perlengkapannya. Empat orang yang masih berada di lokasi sempat dimintai keterangan, lalu dipulangkan dengan kewajiban wajib lapor.
Kapolres menegaskan, tidak ada pengejaran, intimidasi, ataupun penggunaan kekuatan berlebihan dalam kegiatan tersebut.
Empat Pemuda Terjun ke Sungai
Beberapa jam setelah penertiban, sekitar tengah malam, polisi menerima informasi bahwa empat pemuda lain berinisial MA, KS, S, dan UD diduga menceburkan diri ke Sungai Ketiwon.
Keesokan harinya, satu jenazah ditemukan di kawasan Pantai Larangan, Kabupaten Tegal. Korban diketahui berinisial MA. Pencarian terus dilakukan hingga akhirnya dua korban lain ditemukan pada Selasa (3/3/2026) dalam kondisi meninggal dunia, yakni S dan KS.
Sementara satu orang lainnya, UD, dilaporkan selamat. Berdasarkan keterangan keluarga, yang bersangkutan dalam kondisi sehat dan sedang berada di luar kota.
Proses Masih Didalami
Kapolres menyebut proses penyelidikan masih berjalan dan dilakukan secara profesional serta transparan. Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan penanganan kasus ini jelas dan terbuka.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan kooperatif saat ada kegiatan penertiban. Jangan sampai panik lalu mengambil langkah yang justru membahayakan diri sendiri.
Peristiwa ini jadi pengingat pahit: dalam situasi apa pun, keputusan yang diambil dalam hitungan detik bisa berdampak seumur hidup. (*)


