BACAAAJA, BANDUNG – Video bernada rasis terhadap orang Sunda yang dibuat konten kreator TikTok bernama Resbob alias Adimas Firdaus langsung bikin jagat medsos panas. Cuplikan videonya nyebar ke mana-mana, dan komentar bernada kesal pun ikut membanjiri lini masa. Banyak yang merasa ucapan itu sudah kelewat batas dan rawan bikin gesekan sosial kalau dibiarkan begitu saja.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, jadi salah satu yang ikut angkat suara. Ia bilang polisi harus cepat turun tangan karena kasus seperti ini bukan sekadar celotehan di internet. Baginya, ucapan rasis tetap punya dampak nyata, apalagi di ruang publik sebesar media sosial. Ia sendiri mengaku ikut tersinggung setelah mendengar isi videonya.
Erwan menegaskan bahwa Indonesia punya terlalu banyak suku untuk saling merendahkan satu sama lain. Ia bilang, di satu keluarga saja kadang sukunya campur-campur, dan itu indah. Karena itu, menurutnya, tindakan seperti yang Resbob lakukan hanya akan menyalakan api konflik yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Menurut Erwan, langkah cepat aparat jadi kunci biar masalah ini nggak makin melebar. Ia percaya polisi bisa bergerak dalam waktu dekat, baik menelusuri identitas pelaku maupun mempelajari isi konten yang viral itu. Menurutnya, proses hukum yang tegas bakal bikin siapa pun mikir dua kali sebelum ngeluarin konten berbau SARA.
Meski kesal, Erwan tetap mengingatkan agar masyarakat tidak meluapkan kemarahan ke suku manapun. Ia bilang, salah satu konten kreator tidak bisa mewakili satu kelompok besar. Ia sendiri sebagai orang Sunda sangat kecewa, tapi ia tidak mau warganet jadi terbawa emosi hingga menyerang hal-hal yang tidak ada kaitannya.
Dari pihak kepolisian, Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan juga buka suara. Ia menyebut saat ini polisi sudah mulai mendalami laporan yang masuk dan melakukan profiling terhadap akun TikTok Resbob. Hendra memastikan penyidik sedang bekerja untuk menguatkan keterangan saksi dan bukti digital.
Hendra menambahkan bahwa laporan terkait ujaran kebencian itu sudah diterima dan sedang dalam proses verifikasi. Ia berharap masyarakat tetap tenang sambil menunggu perkembangan resmi dari penyidik. Menurutnya, kepolisian ingin memastikan langkah yang diambil sesuai prosedur agar hasil akhirnya tidak bisa digugat.
Kasus ini juga mengangkat lagi pembahasan lama tentang batasan bercanda di internet. Banyak warganet bilang beberapa kreator sering berlindung di balik kata “komedi”, padahal isi kontennya bisa menyinggung identitas etnis atau kelompok tertentu. Bagi masyarakat, video seperti itu tidak lucu, tapi justru memecah belah.
Di sisi lain, beberapa warganet mengingatkan bahwa edukasi soal literasi digital masih perlu terus diperkuat. Tidak semua orang sadar bahwa apa yang diucapkan di dunia maya bisa punya konsekuensi hukum yang nyata. Karena itu, setiap orang diminta lebih hati-hati sebelum merekam dan menyebarkan sesuatu.
Kasus ini juga dianggap sebagai momentum baik bagi pemerintah daerah dan aparat untuk memperbaiki sistem pelaporan konten berbahaya. Banyak yang berharap ada mekanisme yang lebih cepat supaya konten semacam ini tidak sempat viral terlalu lama sebelum ditindak. Semakin cepat dihapus, semakin kecil potensi konflik.
Sejauh ini, polisi belum merilis update lanjutan, tapi penyelidikan disebut terus berjalan. Warganet pun menunggu langkah tegas dari aparat sembari berharap kasus ini bisa jadi contoh agar ke depan tidak ada lagi kreator yang bikin konten rasis untuk kejar viral. Karena bagaimanapun, ruang digital harus tetap aman untuk semua orang. (*)


