BACAAJA, SOLO – Solo makin gaspol jadi kota ramah kreatif. Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan komitmennya buat ngasih ruang aman dan nyaman bagi pelaku industri kreatif, tanpa pungli, tanpa biaya siluman.
Pernyataan ini disampaikan Respati saat hadir di perayaan 30 Tahun Musik Miles Films di Ruang Temporer Galeri Lokananta Surakarta, Senin (26/1/2026).
Acara ini bukan sekadar nostalgia, tapi juga pameran perjalanan panjang Miles Films yang mengawinkan film dan musik dalam satu ruang galeri.
Bacaaja: Respati Kenang Ki Anom Suroto, Jingle ‘Solo Berseri’ Siap Jadi Soundtrack Kota Surakarta
Bacaaja: Bareng Dua ‘Raja Kembar’ Kasunanan, Respati Dampingi Wapres Gibran Keliling Solo
Sejumlah nama besar ikut hadir, mulai dari Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI Ahmad Mahendra, Founder Miles Films Mira Lesmana, Creative Director Riri Riza, hingga Direktur Lokananta Wendi Putranto.
Respati nggak pelit pujian. Menurutnya, Miles Films selama tiga dekade terakhir punya peran besar membentuk karakter perfilman Indonesia, bukan cuma soal tontonan, tapi juga soal pesan dan identitas budaya.
Dari Petualangan Sherina sampai karya-karya lain, film-film Miles dinilai sukses bikin karya yang edukatif sekaligus relevan lintas generasi.
“30 tahun Miles Films ini bukti kerja keras pelaku kreatif yang luar biasa. Film-filmnya bukan cuma bagus, tapi punya nilai dan karakter kuat,” kata Respati.
Lebih jauh, Respati menegaskan Solo terbuka lebar buat rumah produksi mana pun yang mau bikin karya di Kota Bengawan. Dan yang paling ditekankan: nggak ada pungli, nggak ada biaya aneh-aneh.
“Kami di Pemkot Surakarta siap mendukung penuh. Tanpa pungli, tanpa biaya apa pun. Kami jamin keamanan dan kenyamanan teknis supaya kru dan production house bisa produksi film di Solo dengan aman dan nyaman,” tegasnya.
Nggak cuma itu, Respati juga pengin generasi muda Solo ikut nimbrung. Pelajar bakal diajak meramaikan perayaan 30 Tahun Miles Films agar makin melek industri kreatif dan nggak cuma jadi penonton, tapi calon pelaku.
Sementara itu, Riri Riza mengaku senang Solo memberi ruang serius bagi pelaku kreatif.
Menurutnya, Lokananta bukan sekadar venue, tapi bagian penting dari sejarah musik Indonesia, dan kolaborasi ini jadi jembatan antara film, musik, dan publik.
“Lokananta itu bagian dari sejarah musik Indonesia. Kami bahagia bisa menghadirkan pameran yang mempertemukan apa yang terlihat di layar dan yang terdengar lewat musik,” ujar Riri.
Singkatnya, Solo lagi pasang mode welcome banget buat dunia kreatif. Produksi jalan, pungli off, ide bebas tumbuh. (*)


