BACAAJA, TEHERAN – Percakapan terakhir Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebelum serangan udara Israel–Amerika Serikat akhirnya diungkap ke publik.
Informasi ini disampaikan oleh perwakilan resminya di India, Abdul Majid Hakim Ilahi, dalam wawancara dengan sejumlah media di India, Minggu (1/3/2026) malam.
Menurut Abdul Majid, menjelang serangan pada Sabtu (28/2), situasi di Teheran sebenarnya sudah sangat tegang.
Bacaaja: Media AS Laporkan Arab Saudi-Israel Dorong Trump Serang Iran, Begini Tanggapan Riyadh
Bacaaja: Kutuk Serangan ke Iran, MUI Desak Pemerintah Pertimbangkan Mundur dari BoP
Pasukan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut telah berulang kali meminta Khamenei untuk meninggalkan kantornya dan pindah ke lokasi yang lebih aman. Tapi jawabannya konsisten: menolak.
Khamenei menolak dipindah ke luar kota
Abdul Majid mengungkapkan, petugas keamanan bahkan menyarankan agar Khamenei dipindahkan ke luar Teheran demi keselamatan.
Namun sang pemimpin memberikan respons yang dianggap simbolis sekaligus tegas.
“Jika kalian bisa memindahkan 90 juta warga Iran ke kota lain, saya akan pindah setelah itu,” ujar Abdul Majid menirukan pernyataannya.
Tak berhenti di situ, opsi bunker bawah tanah juga sempat ditawarkan. Tapi jawabannya tetap sama.
Menurut Abdul Majid, Khamenei menyatakan ia tak akan mencari perlindungan khusus jika rakyatnya tidak mendapat perlindungan yang sama.
Beberapa jam setelah penolakan itu, kawasan di sekitar kantornya menjadi sasaran serangan udara besar-besaran yang mengguncang Teheran.
Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, dan disebut-sebut melibatkan koordinasi dengan Israel.
Peristiwa itu langsung memicu gelombang reaksi global dan meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kabar wafatnya Khamenei, yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, menandai babak baru dalam sejarah politik Republik Islam tersebut.
Hingga kini, situasi di dalam negeri Iran masih menjadi sorotan internasional. Banyak pihak menunggu bagaimana arah kepemimpinan selanjutnya dan bagaimana respons Teheran terhadap serangan tersebut.
Satu hal yang pasti, percakapan terakhir itu kini jadi simbol sikap keras Khamenei yang memilih tetap berada di tempatnya — di tengah situasi yang sudah di ujung tanduk. (*)


