BACAAJA, BANJARNEGARA — Suasana Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, masih diselimuti kabut duka. Upaya pencarian yang terus digencarkan sejak pagi kembali membuka tabir hilangnya para warga setelah tim SAR gabungan menemukan tujuh jenazah pada Kamis, 20 November 2025.
Dengan ritme kerja tanpa jeda, temuan itu terdiri dari lima jasad utuh dan dua bagian tubuh. Tim langsung menghentikan kegiatan sejenak untuk memastikan penanganan yang layak sebelum proses evakuasi berikutnya dimulai.
Kepala Basarnas Semarang, Budiono, mengatakan pencarian berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. “Hari ini tim menemukan kembali lima jasad dan dua body part, sehingga total ada tujuh temuan,” ungkapnya.
Tiga jenazah sudah teridentifikasi, masing-masing Esiah, Karti, dan Maruni. Dua jasad lainnya, termasuk dua body part, masih menunggu pemeriksaan antemortem dari tim DVI Polri untuk memastikan identitas mereka.
Penambahan Alat Berat dan Tantangan di Lapangan
Di lapangan, suara mesin alat berat terus menderu. Sebanyak 12 excavator dikerahkan di sektor A dan C untuk memecah timbunan material. Sementara sektor B yang fokus pada penyodetan air sudah mencapai progres 35%. Unit K9 masih bekerja mencari kemungkinan tanda-tanda keberadaan korban, ditemani mesin alkon yang tak berhenti hidup.
Budiono menambahkan, dukungan dari Kementerian PUPR juga makin massif. “Ada informasi bahwa enam alat berat tambahan akan dikirim. Jadi total nanti ada 18 unit. Harapannya proses pencarian makin cepat dan seluruh korban bisa segera ditemukan,” ujarnya.
Longsor yang mengguncang area itu bermula pada Minggu, 16 November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB. Hujan deras lebih dari tiga jam memicu kejenuhan material Formasi Halang yang sejak kemarau sudah penuh rekahan. Tekanan air pori meningkat drastis, membuat lereng curam berkemiringan 80 derajat itu tak mampu menahan beban.
Daftar Korban dan Kebutuhan Mendesak Pengungsian
Runtuhan pertama berupa debris slide turun dengan cepat sebelum berubah menjadi arus debris flow yang meluncur liar sejauh sekitar satu kilometer, menghantam rumah-rumah warga. Dalam hitungan menit, desa yang sebelumnya tenang berubah menjadi kepingan sunyi.
Bahkan hingga malam hari, rekahan baru terus muncul. Kondisi itu membuat lokasi sangat tidak stabil dan rawan terjadi longsor susulan, sehingga tim harus bekerja dengan kewaspadaan tinggi.
Hingga hari ini, total korban ditemukan meninggal dunia berjumlah 10 orang, terdiri dari delapan yang berhasil diidentifikasi, satu belum teridentifikasi, dan satu body part. Sementara daftar warga yang masih belum ditemukan mencapai 20 orang.
Di sisi lain, para pengungsi sangat membutuhkan bantuan dasar. Beberapa kebutuhan mendesak meliputi: popok balita, perlengkapan mandi, pakaian dalam, makanan dan susu anak, hygiene kit, alas tidur, cairan antiseptik, sepatu boot, sarung tangan kerja, kacamata safety, hingga peralatan sekolah.
Di tengah medan berat yang terus berubah, harapan tetap dijaga. Setiap galian tanah menjadi usaha menemukan kepastian bagi keluarga yang menunggu dengan doa dan cemas. Tim SAR terus bergerak, berpacu dengan waktu dan kondisi alam untuk menuntaskan pencarian.
Korban Sudah ditemukan dan meninggal dunia: 10 jiwa (8 teridentifikasi, 1 belum teridentifikasi, 1 body part):
1. Ny. Lewih
2. Darti
3. Tuwi
4. Esiah
5. Maruni
6. Karti
7. Lipah
8. Warjono Lamar
9. Ny. X – belum teridentifikasi
10. Body part
Korban belum ditemukan 20 Orang atas nama :
1. Saminem
2. Wanto
3. Kaswanto Kasid
4. Kasno
5. Dangseng/Vandianto
6. Muhammad Faiza Khiar Hasan
7. Suwi
8. Watri
9. Marsiah
10. Soliyah Warjono
11. Sugiono
12. Susanti
13. Jonathan Prayoga
14. Aminah
15. Tunem
16. Rayana Alhusna
17. Mistri
18. Intan Sari
19. Sartini
20. Tarni Suparyo (*)

