Ana Fitri Aulia adalah mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Diponegoro.
Pendidikan perempuan pada akhirnya bukan hanya investasi untuk diri sendiri, tetapi juga aset bagi keluarga yang ia bangun.
Perempuan kerap dinilai dari hal-hal yang mudah dilihat. Wajah yang simetris. Tubuh yang dianggap ideal. Cara berpakaian yang menarik. Itu semua seolah menjadi ukuran paling cepat untuk menentukan nilai perempuan.
Dalam banyak percakapan, pujian tentang fisik terdengar lebih lantang daripada apresiasi atas karakter dan pikiran. Standar kecantikan seakan menjadi “tiket” validasi sosial ketika seorang perempuan bisa memenuhi standar kecantikan tersebut. Ia pun kemudian akan mudah mendapatkan tempat, perhatian, dan penghormatan.
Akibatnya, perempuan mengangankan diri menjadi sosok yang paling cantik dan rela membeli segala hal yang bisa membuatnya menjadi cantik (dengan segala standarnya yang semakin tak masuk akal itu), meskipun harus ditempuh dengan cara yang kerap membahayakan diri sediri.
Bukan berarti menjaga kecantikan itu keliru. Merawat diri adalah hal yang penting dan menjadi bagian dari self-respect atau menghargai diri sendiri. Namun, ketika identitas perempuan berhenti pada penampilan, di situlah kita terlalu jauh menyederhanakan nilai perempuan.
Nilai perempuan tidak berhenti pada apa yang terlihat, melainkan terpancar dari caranya berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, sampai caranya memperlakukan orang lain. Itu semua tentu tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk dari proses belajar yang panjang.
Dari sinilah pendidikan berperan penting bagi perempuan. Bukan hanya soal ijazah atau gelar, melainkan tentang keluasan wawasan, ketajaman dalam melihat masa depan, serta cara pandang yang lebih utuh dalam memahami diri, orang lain, dan arah hidupnya.
Kemudian ketika perempuan menjadi bagian dari sebuah keluarga, kualitas pendidikan turut membentuk arah rumah tangga. Terutama terkait keputusan-keputusan diambil, penyelesaian atas suatu persoalan, hingga seserius apa pertumbuhan dan pendidikan anak diperhatikan.
Semua itu sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan ibu. Pendidikan perempuan pada akhirnya bukan hanya investasi untuk diri sendiri, tetapi juga aset bagi keluarga yang ia bangun. Namun, pendidikan saja tidak cukup. Kita bisa menemukan banyak perempuan yang berpendidikan, tetapi tidak berempati.
Banyak perempuan pintar, tetapi miskin nilai dan mudah menyakiti. Padahal dengan seluruh kapasitas diri dan sikap itulah kelak ia akan menjadi orang tua, menjadi ibu. Dan ibu adalah kurikulum pertama bagi anaknya.
Nilai yang ia hidupi hari ini, akan menjadi nilai yang diwariskan kepada anaknya kelak. Anak akan menyerap nilai-nilai tentang kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dan batas moral dari keputusan-keputusan yang diambil oleh orang tuanya.
Maka jika hari ini seorang perempuan bisa dengan ringan dan sadar menyakiti orang lain, tidak berpegang pada prinsip kebenaran, mudah berkhianat, tidak memiliki prinsip dan visi masa depan yang jelas, lalu berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, adil, dan berintegritas, maka itu adalah harapan yang rapuh. Karena di situlah kontradiksi muncul.
Menyadari adanya kontradiksi tersebut, itu membuat saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana kiranya kelak saya mengajarkan anak-anak saya tentang kebaikan dan integritas?
Sebagai ibu, saya tidak ingin anak saya mudah menyerah atau merasa segalanya bisa didapat tanpa usaha. Sebagai ibu, saya tidak ingin anak saya melihat bahwa integritas dan tanggung jawab bisa diabaikan. Sebagai ibu, saya mengajarkan anak saya percaya pada kerja keras, menghormati orang lain, dan tumbuh dengan empati.
Untuk itu, penting bagi perempuan untuk mengenali diri dan membangun identitas dirinya secara utuh. Perempuan perlu menghiasi diri dengan ilmu, memiliki tujuan hidup, kemandirian berpikir, visi masa depan, dan rasa cukup atas diri sendiri. Perempuan yang memahami nilai dirinya akan bertindak dengan integritas, dan menumbuhkan empati dalam setiap interaksi.
Pada akhirnya, kecantikan sejati tidak lahir dari sekadar penampilan, tetapi tumbuh dari kualitas diri. Karena kualitas perempuan akan menjadi fondasi dan penentu bagi kualitas generasi.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


