RAMADHAN datang tiap tahun, tapi selalu aja ada yang cari celah biar bisa “libur” puasa. Alasannya macem-macem, dari yang terdengar serius sampai yang sebenarnya cuma pembenaran diri. Padahal, puasa itu bukan agenda opsional.
Di bulan ini, setiap muslim yang baligh dan berakal memang punya kewajiban menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi bentuk taat yang jelas banget perintahnya.
Puasa juga bukan cuma urusan perut kosong. Ini soal komitmen, soal nurut sama aturan Allah meski badan lagi pengin yang sebaliknya.
Dalam beberapa ceramahnya, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, sering banget ngebahas soal ini. Gaya bicaranya santai, tapi isinya tegas dan kadang nyelekit.
Ada saja orang yang mikir keras, gimana caranya tetap bisa makan siang di bulan Ramadhan tanpa ngerasa bersalah. Seolah-olah hukum agama bisa diakalin kayak aturan parkir.
Dalam tayangan di kanal YouTube @albahjah-tv, Buya Yahya pernah jawab pertanyaan semacam itu dengan kalimat yang bikin orang langsung mikir ulang. Jawabannya terdengar ekstrem, tapi justru di situlah pesannya.
“Kalau Anda pengin siang hari enggak puasa, enak makan ke mana-mana boleh, tapi Anda jadi gila dulu,” ucapnya tegas.
Maksudnya jelas, dalam syariat Islam orang yang benar-benar hilang akalnya memang tidak dibebani kewajiban. Termasuk kewajiban puasa.
Tapi tentu yang dimaksud bukan pura-pura. Orang yang benar-benar mengalami gangguan jiwa sampai tak sadar hukum, memang tidak terkena dosa maupun pahala karena tak punya kemampuan memahami perintah.
Sementara orang yang sehat, sadar, dan sengaja cari alasan biar bisa makan di siang hari Ramadhan, itu cerita lain. Itu bukan bebas kewajiban, tapi justru sedang nekat melanggar.
Buya Yahya juga menegaskan, orang gila bukan “boleh” makan, tapi memang tidak dibebani aturan karena tak memahami syariat. Jadi jangan dipelintir seolah itu tiket bebas puasa.
Puasa sendiri adalah salah satu rukun Islam. Bukan ibadah tambahan, tapi fondasi utama yang nggak bisa ditawar tanpa alasan syar’i.
Lucunya, banyak orang bilang puasa itu berat. Tapi kalau lagi kerja lembur demi target, atau nahan lapar karena lagi sibuk banget, ternyata kuat-kuat aja.
Di situ sebenarnya kelihatan, berat atau nggaknya sering kali soal niat. Kalau dari awal sudah ogah-ogahan, ya pasti terasa panjang banget dari subuh sampai magrib.
Sebaliknya, kalau dijalani dengan kesadaran, puasa justru terasa lebih ringan. Karena yang ditahan bukan cuma makan dan minum, tapi juga emosi dan keinginan yang berlebihan.
Puasa itu latihan mental. Latihan buat sabar, buat ngerem diri, dan buat ngerasain sedikit apa yang dirasakan orang-orang yang tiap hari hidup dalam kekurangan.
Ada juga yang lupa, Islam itu nggak kaku tanpa solusi. Kalau memang sakit atau dalam perjalanan jauh, ada rukhsah alias keringanan buat nggak puasa dan menggantinya di hari lain.
Artinya, agama ini realistis. Tapi keringanan itu buat yang benar-benar punya uzur, bukan buat yang sekadar malas.
Kalau badan sehat, nggak ada halangan, tapi tetap milih ninggalin puasa, itu bukan soal mampu atau nggak. Itu soal mau atau nggak.
Ramadhan sejatinya bukan beban tahunan. Justru ini momen upgrade diri, bersih-bersih hati, dan nambah tabungan pahala.
Sayang banget kalau kesempatan sebulan penuh ini cuma dilewati dengan keluhan. Apalagi sampai sibuk cari cara biar bisa lolos dari kewajiban.
Pada akhirnya, yang rugi bukan orang lain. Yang kehilangan justru diri sendiri, karena melewatkan momen emas yang nggak datang tiap hari.
Jadi daripada mikir gimana caranya nggak puasa, mungkin lebih keren kalau mikir gimana caranya puasa tahun ini lebih berkualitas dari tahun kemarin. (*)


