BACAAJA, SEMARANG – Ramadhan itu bukan cuma soal nahan lapar dan haus, tapi juga soal tanggung jawab yang nempel setelahnya. Kadang ada hari-hari yang bolong, entah karena haid, sakit, perjalanan jauh, atau kondisi tertentu yang dibolehkan syariat. Masalahnya, nggak sedikit yang utangnya malah numpuk sampai bertahun-tahun.
Puasa Ramadhan sendiri adalah kewajiban setiap Muslim yang sudah memenuhi syarat. Tapi Islam juga realistis, ada kondisi yang bikin seseorang boleh nggak puasa dulu. Nantinya, hari yang terlewat itu tetap harus diganti di luar bulan Ramadhan.
Yang sering kejadian, qadha ini ditunda terus. Awalnya cuma satu dua hari, lama-lama jadi belasan, bahkan puluhan hari. Tiba-tiba sudah lewat beberapa Ramadhan dan angka pastinya pun mulai samar.
Pertanyaan kayak gini pernah muncul dalam kajian KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya. Lewat tayangan di kanal YouTube Al Bahjah TV, ia menjelaskan dengan gaya yang adem dan nggak menghakimi.
Menurut Buya Yahya, orang yang gelisah karena utang puasanya justru patut diapresiasi. Artinya, masih ada rasa tanggung jawab dan keinginan buat beresin masa lalu. Itu tanda hati masih hidup.
Secara fikih, utang puasa tetap jadi tanggungan selama belum dibayar. Berapa pun jumlahnya, tetap wajib di-qadha. Waktu yang lewat nggak otomatis menghapus kewajiban itu.
Kalau sampai lewat Ramadhan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan, ada konsekuensi tambahan menurut sebagian ulama: selain qadha, juga bayar fidyah. Fidyahnya berupa memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.
Lalu gimana kalau jumlahnya sudah nggak ingat lagi? Buya Yahya menyarankan untuk memperkirakan dengan jujur dan realistis. Nggak perlu harus super presisi, yang penting ada usaha menghitung dan mencatat.
Langkah pertama yang ditekankan adalah taubat sungguh-sungguh. Bukan cuma bilang istighfar, tapi juga ada tekad kuat buat nggak mengulang kelalaian yang sama. Taubat ini jadi fondasi sebelum masuk ke teknis qadha.
Setelah itu, mulai cicil puasanya pelan-pelan. Nggak harus langsung ngebut dalam sebulan penuh kalau fisik nggak kuat. Bisa diatur ritmenya, misalnya seminggu dua kali atau menyesuaikan kemampuan tubuh.
Ada juga trik yang cukup ringan: manfaatkan momen puasa sunnah sekalian niat qadha. Jadi sekali jalan, dapat pahala puasa sunnah dan utang pun berkurang. Cara ini terasa lebih ringan buat yang sudah kerja atau usianya nggak muda lagi.
Buat yang usianya sudah 40 atau 50 tahun dan baru sadar punya utang banyak, nggak perlu panik. Islam nggak pernah menyuruh sesuatu di luar batas kemampuan. Yang penting konsisten dan punya catatan target.
Kalau memang sudah nggak mampu puasa karena sakit menahun atau usia lanjut, barulah fidyah jadi opsi utama. Dalam kondisi ini, kewajiban qadha bisa diganti dengan memberi makan orang miskin sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.
Yang sering bikin stres itu rasa takut duluan. Takut nggak sanggup, takut dosanya keburu menumpuk, takut Allah nggak ampuni. Padahal, menurut Buya Yahya, rasa gelisah itu sendiri sudah jadi tanda kebaikan.
Ia juga mengingatkan, beda kasus dengan mualaf. Orang yang baru masuk Islam nggak punya tanggungan ibadah masa lalu. Tapi bagi yang sejak awal Muslim, tanggung jawab ibadah tetap melekat dan perlu diselesaikan.
Meski begitu, pendekatan dakwah tetap harus lembut. Jangan sampai orang yang mau berubah malah ciut karena diceramahi dengan nada keras. Yang dibutuhkan justru dukungan dan solusi praktis.
Kalau sudah mulai mencicil dan punya daftar hari yang harus diganti, simpan catatannya baik-baik. Setiap kali selesai satu hari qadha, coret dari daftar. Sensasinya bikin lega dan makin semangat lanjut.
Dan kalau suatu saat ajal datang sebelum semua lunas? Buya Yahya menenangkan, selama sudah ada niat, taubat, dan usaha nyata, itu jadi bukti kesungguhan. Allah Maha Tahu isi hati dan perjuangan hamba-Nya.
Intinya, jangan biarkan utang puasa jadi beban mental bertahun-tahun. Mulai saja dulu dari satu hari, lalu tambah pelan-pelan. Yang penting bergerak, bukan cuma merasa bersalah tanpa aksi.
Ramadhan memang datang dan pergi tiap tahun, tapi kesempatan memperbaiki diri selalu terbuka. Selama masih ada napas, selalu ada jalan buat beresin utang puasa dan bikin hati jauh lebih tenang. (*)


