BACAAJA, TEGAL – Bencana tanah gerak bikin geger warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Total ada 104 bangunan rusak, mulai dari rumah warga, fasilitas umum, sampai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Adalah yang ikut ambruk.
Tanah mulai terasa bergerak sejak Minggu (1/2/2026) setelah wilayah ini diguyur hujan deras berhari-hari. Awalnya cuma muncul retakan panjang di tanah dan tembok rumah. Tapi situasi cepat berubah jadi mencekam.
Salah satu momen paling bikin merinding terjadi di Ponpes Al Adalah. Bangunan terlihat perlahan miring, lantai terasa bergelombang, lalu terdengar suara keras kayak patahan sebelum akhirnya sebagian gedung roboh seketika.
Bacaaja: Walhi Ungkap Akar Masalah Banjir Jateng, Tata Ruang Semrawut Banget
Bacaaja: Januari Belum Kelar, Bencana Sudah 45 Kali Nyapa Jateng
Santri dan pengurus yang ada di sekitar lokasi langsung lari keluar buat nyelametin diri. Suasana sempat chaos karena semua orang takut bangunan lain ikut runtuh. Untungnya, nggak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Tegal, M Wisnu Imam, mengatakan kerusakan cukup parah karena tanah terus bergerak dari hari ke hari.
“Jumlah sementara ada 104 rumah yang rusak. Kejadian mulai Minggu dan tanah terus gerak, hari Senin sudah parah,” jelasnya, Rabu (4/2/2026).
Total ada sekitar 150 kepala keluarga atau 470 jiwa yang terdampak. Kerusakan tersebar di beberapa RW dan dukuh di Desa Padasari.
Nggak cuma rumah, infrastruktur juga kena imbas. Tiga ruas jalan rusak, satu bendung irigasi terdampak, jembatan desa bermasalah, bahkan musala ikut terkena efek tanah gerak.
Fasilitas pendidikan juga nggak luput dari bencana. Selain Ponpes Al Adalah, bangunan SDN Padasari 01, SMA Al Adalah, PAUD Al-Muna, MI Padasari, dan MDTA Nurul Atfal ikut terdampak. Polindes Padasari juga mengalami kerusakan.
Saat ini, 17 warga dari lima keluarga terpaksa ngungsi ke SDN Padasari 01 karena rumah mereka rusak berat dan nggak lagi aman ditempati.
Petugas masih terus memantau kondisi tanah yang dikhawatirkan masih bisa bergerak, apalagi kalau hujan kembali turun.
Warga diminta tetap waspada. Kalau lihat ada retakan atau bangunan mulai miring, langsung menjauh — jangan nekat bertahan demi menghindari risiko runtuhan mendadak. (*)


