BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bikin gebrakan dengan melantik 12 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama hasil seleksi Tim Komite Talenta. Langkah ini bikin Semarang jadi daerah pertama di Jawa Tengah yang resmi menerapkan sistem meritokrasi berbasis izin Pemerintah Pusat.
Pelantikan digelar di Ruang Lokakrida, Balai Kota Semarang, Jumat (6/2/2026). Agustina menegaskan, pengisian jabatan kali ini murni berdasarkan kompetensi, rekam jejak, dan data objektif, tanpa campur tangan faktor kedekatan.
“Semua lewat seleksi Tim Komite Talenta. Ini hal baru di Jawa Tengah, dan baru Kota Semarang yang dapat izin. Kita dorong birokrasi bekerja dengan prinsip meritokrasi berbasis data,” tegas Agustina. Menurutnya, langkah ini bukan ujug-ujug.
Baca juga: Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal
Awal Januari 2026 lalu, Pemkot Semarang baru saja menyabet Anugerah Meritokrasi dengan predikat Sangat Baik dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Penghargaan itu, kata Agustina, jadi bukti kalau sistem manajemen ASN di Semarang sudah naik level, lebih ketat, modern, dan nggak gampang “ditembus”.
“Sudah nggak bisa lagi saya asal menaikkan orang karena kedekatan atau tim sukses. Aturannya ketat banget, justru untuk menjaga stabilitas, kinerja, dan kemajuan pemerintahan,” ujarnya.
Soroti Integritas
Bukan cuma soal sistem, Agustina juga menyoroti integritas. Ia dengan tegas menyatakan nol toleransi terhadap praktik suap dan gratifikasi dalam urusan jabatan. “Kalau ada yang datang minta uang setelah pelantikan ini, saya nggak segan kirim ke proses hukum. Pemerintahan ini harus bersih sampai ke akar,” tandasnya.
Para pejabat baru pun diminta langsung tancap gas menerjemahkan visi “Semarang Bersih, Sehat, Cerdas, Makmur, dan Tangguh” ke dalam kerja nyata. Bagi Agustina, jabatan bukan sekadar titel, tapi amanah yang harus terasa dampaknya di masyarakat.
Baca juga: Jateng Gas Pol Manajemen Talenta
“Ukuran sukses bukan di kursi jabatan, tapi di perubahan yang dirasakan warga. Mari gaspol buat Kota Semarang, bekerja pakai ilmu, melayani pakai hati, dan jaga amanah setinggi-tingginya,” pungkasnya.
Kalau naik jabatan sekarang pakai nilai dan data, satu hal jadi jelas: yang paling deg-degan bukan rakyat, tapi mereka yang dulu biasa lewat jalur belakang. (tebe)


