Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
“Standar moral sering dipaksakan seolah semua orang start dari garis yang sama.”
Kalimat “anak bukan investasi” sedang laris seperti stiker motivasi di laptop coworking space. Secara etis, itu benar. Cinta seharusnya tanpa syarat, pengasuhan bukan transaksi. Tapi kalimat itu sering jadi terkesan munafik bukan karena semua yang mengucapkannya jahat, melainkan karena ia menutup mata pada kegagalan sistem yang memaksa jutaan keluarga bertahan dengan cara yang tidak ideal.
Mari mulai dari fakta yang sering diabaikan. Badan Pusat Statistik lewat Sakernas berkali-kali menunjukkan bahwa pekerja informal masih menjadi porsi besar tenaga kerja. Artinya, banyak orang tua bekerja tanpa kepastian pendapatan, tanpa tunjangan, dan sering tanpa perlindungan hari tua yang memadai. Ketika kondisi tersebut bertemu biaya hidup yang terus naik, “menabung pensiun” berubah dari rencana menjadi lelucon. Bukan lelucon yang lucu, lebih mirip komedi gelap.
Di sinilah nasihat “anak bukan investasi” terasa seperti candaan mahal. Enak diucapkan saat risiko hidup sudah dibayar aset keluarga, jejaring, atau warisan. Tidak enak diucapkan saat seorang ayah menghitung cicilan, uang sekolah, dan biaya beras dalam satu napas, lalu sadar “pensiun” hanya ada di poster bank.
BPJS Ketenagakerjaan memang punya Jaminan Hari Tua (JHT) dan skema untuk peserta termasuk pekerja informal, tetapi tantangannya sering bukan sekadar ada atau tidak, melainkan keterjangkauan iuran dan konsistensi setoran ketika pendapatan harian saja naik-turun. Akibatnya, banyak keluarga menambal celah itu dengan satu “produk asuransi” yang paling dekat, yaitu anak.
Sistem juga menciptakan dua jalur hidup. Jalur pertama ialah keluarga yang aman karena aset dan warisan. Pendidikan lebih mudah, sakit bisa ditanggung, masa tua punya cadangan. Jalur kedua ialah keluarga tanpa bantalan. Biaya pendidikan sering dibayar dengan utang, keadaan darurat menghabiskan tabungan, masa tua menjadi ketakutan yang disembunyikan di balik kalimat “nanti juga ada jalan”.
Dari jalur pertama, standar moral sering dipaksakan seolah semua orang start dari garis yang sama. Yang dikritik bukan kemapanan hasil kerja, melainkan blindspot ketika nasihat moral tidak disertai empati struktural.
Akar masalahnya adalah desain struktural. Kekayaan sering tersumbat dalam bentuk pasif sebagai warisan ekstrem, aset menganggur, spekulasi tanah. Nilainya naik tanpa kontribusi sosial sepadan, sementara keluarga pekerja menanggung risiko hidup sendirian. Dalam kerangka Sirkulasi Nilai, ini adalah penyumbatan: nilai menumpuk di puncak, aliran pengembalian ke ranah sosial macet, lalu risiko masa tua dipindahkan ke keluarga.
Solusinya bukan memarahi orang tua miskin, melainkan membuka sumbatan. Terapkan pajak progresif tegas atas kekayaan pasif tidak produktif dan warisan ekstrem, lalu kembalikan hasilnya ke publik lewat tiga fondasi.
Pertama, jaminan sosial universal yang realistis bagi pekerja informal, termasuk pensiun dasar dan subsidi iuran. Kedua, pendidikan yang benar-benar terjangkau agar mobilitas sosial tidak dibayar dengan utang. Ketiga, dukungan produktivitas pekerja informal lewat akses modal, alat kerja, pelatihan, dan pasar agar orang tua bisa menabung dari kerja hari ini, bukan “menagih” dari kerja anak kelak.
Hubungan ideal orang tua dan anak tidak akan merata selama sistem memaksa keluarga menjadikan anak sebagai asuransi. Jika ingin anak benar-benar bukan investasi, kritik harus diarahkan ke sistem yang menciptakan keterpaksaan. Barulah dukungan anak menjadi pilihan yang lahir dari syukur, bukan kewajiban yang lahir dari kemiskinan. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


