Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Menyoal Ucapan “Anak Bukan Investasi”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Menyoal Ucapan “Anak Bukan Investasi”

Redaktur Opini
Last updated: Desember 19, 2025 5:01 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

“Standar moral sering dipaksakan seolah semua orang start dari garis yang sama.”

 

Kalimat “anak bukan investasi” sedang laris seperti stiker motivasi di laptop coworking space. Secara etis, itu benar. Cinta seharusnya tanpa syarat, pengasuhan bukan transaksi. Tapi kalimat itu sering jadi terkesan munafik bukan karena semua yang mengucapkannya jahat, melainkan karena ia menutup mata pada kegagalan sistem yang memaksa jutaan keluarga bertahan dengan cara yang tidak ideal.

Mari mulai dari fakta yang sering diabaikan. Badan Pusat Statistik lewat Sakernas berkali-kali menunjukkan bahwa pekerja informal masih menjadi porsi besar tenaga kerja. Artinya, banyak orang tua bekerja tanpa kepastian pendapatan, tanpa tunjangan, dan sering tanpa perlindungan hari tua yang memadai. Ketika kondisi tersebut bertemu biaya hidup yang terus naik, “menabung pensiun” berubah dari rencana menjadi lelucon. Bukan lelucon yang lucu, lebih mirip komedi gelap.

Di sinilah nasihat “anak bukan investasi” terasa seperti candaan mahal. Enak diucapkan saat risiko hidup sudah dibayar aset keluarga, jejaring, atau warisan. Tidak enak diucapkan saat seorang ayah menghitung cicilan, uang sekolah, dan biaya beras dalam satu napas, lalu sadar “pensiun” hanya ada di poster bank.

BPJS Ketenagakerjaan memang punya Jaminan Hari Tua (JHT) dan skema untuk peserta termasuk pekerja informal, tetapi tantangannya sering bukan sekadar ada atau tidak, melainkan keterjangkauan iuran dan konsistensi setoran ketika pendapatan harian saja naik-turun. Akibatnya, banyak keluarga menambal celah itu dengan satu “produk asuransi” yang paling dekat, yaitu anak.

Sistem juga menciptakan dua jalur hidup. Jalur pertama ialah keluarga yang aman karena aset dan warisan. Pendidikan lebih mudah, sakit bisa ditanggung, masa tua punya cadangan. Jalur kedua ialah keluarga tanpa bantalan. Biaya pendidikan sering dibayar dengan utang, keadaan darurat menghabiskan tabungan, masa tua menjadi ketakutan yang disembunyikan di balik kalimat “nanti juga ada jalan”.

Dari jalur pertama, standar moral sering dipaksakan seolah semua orang start dari garis yang sama. Yang dikritik bukan kemapanan hasil kerja, melainkan blindspot ketika nasihat moral tidak disertai empati struktural.

Akar masalahnya adalah desain struktural. Kekayaan sering tersumbat dalam bentuk pasif sebagai warisan ekstrem, aset menganggur, spekulasi tanah. Nilainya naik tanpa kontribusi sosial sepadan, sementara keluarga pekerja menanggung risiko hidup sendirian. Dalam kerangka Sirkulasi Nilai, ini adalah penyumbatan: nilai menumpuk di puncak, aliran pengembalian ke ranah sosial macet, lalu risiko masa tua dipindahkan ke keluarga.

Solusinya bukan memarahi orang tua miskin, melainkan membuka sumbatan. Terapkan pajak progresif tegas atas kekayaan pasif tidak produktif dan warisan ekstrem, lalu kembalikan hasilnya ke publik lewat tiga fondasi.

Pertama, jaminan sosial universal yang realistis bagi pekerja informal, termasuk pensiun dasar dan subsidi iuran. Kedua, pendidikan yang benar-benar terjangkau agar mobilitas sosial tidak dibayar dengan utang. Ketiga, dukungan produktivitas pekerja informal lewat akses modal, alat kerja, pelatihan, dan pasar agar orang tua bisa menabung dari kerja hari ini, bukan “menagih” dari kerja anak kelak.

Hubungan ideal orang tua dan anak tidak akan merata selama sistem memaksa keluarga menjadikan anak sebagai asuransi. Jika ingin anak benar-benar bukan investasi, kritik harus diarahkan ke sistem yang menciptakan keterpaksaan. Barulah dukungan anak menjadi pilihan yang lahir dari syukur, bukan kewajiban yang lahir dari kemiskinan. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Cara Terbaik Seorang Istri Memahami Suami yang Hobi Memancing

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekolah Libur, MBG Tetap Jalan dengan Skema Fleksibel Seperti Ini
Next Article Nasib Bupati Bekasi: Ngilang 2 Hari, Begitu Muncul Langsung Di-OTT KPK bareng Ayahnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Tragedi Kaca Transparan

Ilustrasi tindak pidana suap dan korupsi. (narakita/grafis/tera)

Indonesia Juara Korupsi? IPK Anjlok: Lebih Buruk dari Timor Leste, Kalah Saing di ASEAN

Wali Kota Solo melantik pengurus DPC Gekrafs Surakarta periode 2026–2029, sekaligus peluncuran Project Solo Tourism Directory, Selasa (10/2/2026) malam di Taman Balekambang.

Respati Dorong Gekrafs Jadi Motor Ekonomi Kreatif Solo, Bukan Organisasi Seremonial

Wakil Ketua DPRD Jateng M Saleh (kanan), meminta pemerintah dan pihak terkait memperkuat mitigasi bencana.

Dampak Bencana Beruntun di Jateng Kian Luas, Saleh Minta Mitigasi Diperkuat

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Januari 28, 2026
Ilustrasi karang gigi.
Opini

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

November 2, 2025
Opini

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

November 20, 2025
Opini

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Januari 25, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menyoal Ucapan “Anak Bukan Investasi”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?