Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Hal yang dihargai bukan kapasitas menjelaskan situasi secara kompleks, tetapi cara menghasilkan komentar yang cepat, tajam, dan mudah disebarkan.
Beberapa waktu terakhir, sebuah konflik personal antara dua orang bisa berubah menjadi perdebatan nasional hanya dalam hitungan jam. Ketika sebuah kasus viral di media sosial, ribuan komentar segera bermunculan.
Ada yang mencoba menafsirkan peristiwa. Ada yang menilai siapa yang bersalah. Tetapi tidak sedikit pula yang menjadikannya bahan ejekan. Percakapan yang seharusnya berangkat dari sebuah tragedi atau konflik manusia sering dengan cepat bergeser menjadi ajang saling olok-olok di antara para penonton digital.
Fenomena ini menunjukkan perubahan menarik dalam cara masyarakat berinteraksi dengan sebuah peristiwa. Konflik yang pada dasarnya bersifat interpersonal, dan melibatkan dua individu, dengan konteks relasi yang rumit sering diperlakukan sebagai panggung komentar kolektif.
Alih-alih mencoba memahami situasi, atau menahan penilaian sampai fakta lebih jelas, banyak orang justru berlomba menghasilkan komentar yang paling tajam, paling sinis, atau paling mengundang reaksi. Dalam ruang yang dipenuhi audiens anonim, ejekan sering menjadi bentuk ekspresi yang paling cepat menarik perhatian.
Fenomena ini bisa dipahami jika kita melihat interaksi di media sosial sebagai bentuk dramaturgi sosial. Dalam perspektif ini, ruang digital bekerja seperti panggung untuk menampilkan diri di hadapan audiens yang luas.
Ketika seseorang menulis komentar, yang dipikirkan tidak selalu hanya lawan bicara. Ia juga memikirkan agar komentarnya akan terlihat oleh orang lain yang membaca. Komentar yang sarkastik atau mengejek sering lebih efektif sebagai performa sosial dibandingkan argumen yang panjang dan hati-hati.
Logika ini diperkuat oleh cara platform media sosial bekerja dalam ekonomi perhatian. Sistem distribusi konten cenderung mendorong unggahan yang menghasilkan interaksi tinggi seperti komentar, reaksi, dan perdebatan. Konten yang memicu emosi kuat sering lebih cepat menyebar daripada penjelasan yang hati-hati.
Tanpa disadari, pola ini menciptakan insentif bagi gaya komunikasi yang lebih provokatif. Ditambah, komentar yang tajam atau menghina sering memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan upaya menjelaskan konteks secara lebih hati-hati.
Ada juga faktor psikologis yang dikenal sebagai online disinhibition effect. Komunikasi digital menciptakan jarak sosial yang cukup besar. Orang tidak melihat ekspresi wajah lawan bicara dan tidak merasakan secara langsung dampak emosional dari kata-kata mereka.
Banyak percakapan juga terjadi di hadapan audiens anonim. Kondisi ini membuat batasan sosial yang biasanya menahan seseorang untuk tidak menghina orang lain menjadi lebih lemah. Akibatnya, ejekan atau komentar sinis menjadi lebih mudah muncul.
Ketika kondisi panggung sosial, ekonomi perhatian, dan jarak psikologis ini bertemu, perdebatan di media sosial mudah berubah menjadi kompetisi retorika. Akibatnya, hal yang dihargai bukan kapasitas menjelaskan situasi secara kompleks, tetapi cara menghasilkan komentar yang cepat, tajam, dan mudah disebarkan. Dalam proses tersebut, konflik interpersonal yang sebenarnya melibatkan manusia nyata dengan konteks yang rumit sering berubah menjadi sekadar bahan tontonan kolektif.
Jika demikian, mungkin pertanyaannya bukan lagi terkait alasan debat di media sosial begitu mudah berubah menjadi ejekan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah media sosial memang bisa diposisikan sebagai ruang debat yang objektif? Atau barangkali sejak awal ia lebih tepat dipahami sebagai ruang ekspresi diri yang kebetulan terlihat seperti diskusi publik.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


