BACAAJA, SEMARANG- Di tengah lonjakan belanja jelang dan saat Lebaran, angka inflasi di Kota Semarang pada Maret 2026 tercatat cuma 0,37 persen (month-to-month). Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik setempat, dan dianggap masih dalam batas aman.
Kalau ditarik lebih luas, inflasi tahun kalender (Januari-Maret 2026) ada di angka 0,80 persen. Sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) menyentuh 3,57 persen, turun cukup jauh dari bulan sebelumnya yang sempat di angka 4,65 persen.
Baca juga: Inflasi Jateng: Dari Cabai Pedas sampai Emas, Tantangan dan Harapan di Tangan Luthfi–Yasin
Artinya? Tekanan harga mulai “adem”, meskipun di lapangan masyarakat masih ngerasain kenaikan harga, terutama bahan pokok selama Ramadan dan Lebaran.
Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono bilang, angka inflasi sebelumnya sempat tinggi karena efek “low base”. Singkatnya, ada pengaruh dari kebijakan diskon listrik 50 persen di awal 2025 yang bikin perbandingan tahunannya jadi terlihat melonjak.
Masih Terjangkau
“Jadi secara real, tekanan harga nggak setinggi yang kelihatan di data sebelumnya,” jelasnya. Dari sisi pangan, kondisinya juga relatif aman. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Semarang, M Luthfi Eko Nugroho memastikan stok barang cukup dan harga masih bisa dijangkau masyarakat. “Naik ada, tapi masih wajar. Nggak sampai bikin masyarakat ‘kaget’,” katanya.
Pemkot sendiri nggak tinggal diam. Intervensi harga lewat operasi pasar, pemantauan stok, sampai koordinasi lintas OPD terus digeber buat jaga stabilitas. Tujuannya jelas: daya beli warga tetap aman.
Baca juga: Antsipasi Kenaikan Harga, Pemkot Siapkan Operasi Senyap ke Pasar
Dengan kondisi ini, inflasi Semarang dinilai masih “on track”. Bahkan bisa dibilang cukup tangguh menghadapi tekanan musiman kayak Lebaran.
Di saat harga-harga biasanya ikut “mudik naik”, kali ini inflasi malah milih stay di tempat. Mungkin benar, yang sering bikin dompet jebol bukan cuma harga yang naik, tapi juga gengsi belanja yang susah turun. (tebe)


