BACAAJA, BANJARNEGARA – Desa Bedana di Banjarnegara lagi ngambil langkah beda buat ngangkat kemandirian ekonomi warganya. Bukan cuma fokus ke anggaran atau pembangunan fisik, desa ini justru ngegas lewat dunia literasi sebagai fondasi biar warganya makin melek dan mandiri. Program ini dikemas dalam nama “Laksana Aksara Bedana”, hasil kolaborasi Alfuwisdom: Living Literacy bareng Dompet Dhuafa Jawa Tengah.
Kepala Desa Bedana, Hardiyanto Setiawan, bilang kalau literasi itu bukan sekadar baca-baca biasa. Buat dia, literasi adalah kunci biar hidup dan ekonomi warga bisa jalan lebih terarah.
“Literasi adalah pondasi dalam segala aspek, termasuk dalam ekonomi. Gerakan ini diharapkan mampu menerjemahkan arah ekonomi yang berkelanjutan bagi anak cucu,” ujarnya santai, Sabtu (29/11/2025).
Hardiyanto juga nyorot kalau literasi bisa jadi energi perubahan. Dari literasi, warga bisa mikir lebih kritis, bisa kolaborasi, dan bisa ngeramu pengetahuan jadi tindakan yang lebih terarah.
Nah, “Laksana Aksara Bedana” ini berdiri di atas dua pilar utama. Pertama, ada Pustaka Bumi Putera Bedana, pusatnya literasi desa. Tempat ini dipakai buat jadi gudang pengetahuan, ruang baca, tempat diskusi, sampai kelas-kelas edukasi komunitas. Harapannya, warga punya akses bacaan yang bener-bener berguna dan terarah.
Pilar kedua adalah Jurnalis Desa. Kelompok ini disiapkan buat nampung dan ngolah hasil literasi jadi karya nyata. Mereka bukan cuma liput kegiatan atau dokumentasi, tapi juga bantu ngangkat potensi lokal, ngepromosiin UMKM Bedana, dan ngejaga arus informasi biar warga makin up to date.
“Kehadiran Jurnalis Desa jadi jembatan antara pengetahuan dan tindakan, sejalan dengan visi ekonomi berkelanjutan desa,” tambah Hardiyanto.
Gerakan ini dibangun bareng dua lembaga yang punya kapasitas beda. CV Alfuwisdom Mitra Prima dari Yogyakarta ngasih dukungan dari sisi penerbitan, manajemen buku, sampai pendampingan literasi. Dompet Dhuafa Jawa Tengah nambahin kekuatan lewat pengalaman mereka dalam pemberdayaan umat dan pengelolaan ekonomi berbasis zakat.
Karena itu, “Laksana Aksara Bedana” bukan program sesaat. Ini lebih mirip investasi jangka panjang buat ngebangun budaya membaca, menulis, dan mikir kritis. Warga pun diajak buat lebih produktif dan bisa manfaatin ilmu sebagai modal ekonomi.
Melalui program ini, Desa Bedana nyusun ekosistem baru yang ngubungin literasi dengan masa depan ekonomi desa. “Program ini jadi model bagaimana desa bisa tumbuh bertumpu pada ilmu, bukan cuma bantuan jangka pendek,” tutup Hardiyanto dengan optimis. (*)


