BACAAJA, SEMARANG- Kawasan Kota Lama Semarang kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata paling kuat di Jawa Tengah selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sepanjang periode liburan, jumlah kunjungan ke Kota Lama tembus 461 ribu wisatawan, tertinggi se-Jateng.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Masrofi menyebut, total kunjungan wisata di Jawa Tengah selama libur Nataru 2025-2026 mencapai 3,89 juta orang.
“Terhitung dari 20 Desember 2025 sampai 1 Januari 2026, jumlahnya 3,89 juta wisatawan,” kata Masrofi di Kantor Disporapar Jateng, Kamis (2/1/2026). Jumlah tersebut naik 1,89 persen dibanding periode libur Nataru tahun sebelumnya yang berada di angka 3,82 juta kunjungan.
Meski ada imbauan tidak merayakan malam tahun baru dengan pesta kembang api, keramaian tetap terasa, terutama di kawasan Simpang Lima yang dipadati warga dalam kegiatan doa lintas agama.
Masrofi mengungkapkan, daerah tujuan wisata paling ramai selama Nataru masih didominasi wilayah-wilayah favorit lama. Di antaranya Kota Semarang, Kabupaten Klaten, Demak, Rembang, dan Kota Surakarta.
Baca juga: Wisatawan Jateng Udah Lumayan, Tembus 53 Juta, tapi…
Untuk destinasi favorit, Kota Lama Semarang berada di posisi teratas dengan 461 ribu kunjungan. Disusul Masjid Agung Demak sebanyak 298 ribu wisatawan dan Makam Sunan Kalijaga dengan 272 ribu kunjungan.
Destinasi lain yang juga ramai antara lain Candi Prambanan (232 ribu), Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (167 ribu), Candi Borobudur (146 ribu), Kawasan Dieng (136 ribu), Pantai Karang Jahe (111 ribu), Lawang Sewu (108 ribu), dan Owabong (113 ribu).
Menurut Masrofi, tren wisata tahun ini menunjukkan minat masyarakat lebih condong ke wisata sejarah dan religi, lalu disusul wisata alam. Hingga akhir libur akhir pekan, jumlah wisatawan diperkirakan masih bisa naik hingga 4,3-4,5 juta kunjungan.
“Kota Lama itu favorit karena tidak berbayar. Orang bisa datang, foto-foto di jalan, depan gedung kuno, lalu lanjut kulineran,” jelasnya.
Turun Peringkat
Sementara itu, objek wisata Guci yang tahun lalu masuk 10 besar destinasi terpopuler, kini harus rela turun peringkat. Namun Masrofi menegaskan penurunan tersebut tidak signifikan dan bukan karena dampak banjir bandang.
“Yang terdampak parah itu Pancuran 13. Pancuran 5 sudah aman. Guci tidak ditutup total,” katanya. Menurutnya, Guci kemungkinan hanya tergeser ke peringkat 11 atau 12 karena destinasi lain justru mengalami lonjakan kunjungan.
Di sisi lain, Benteng Fort Willem di Ambarawa mulai mencuri perhatian sebagai destinasi baru. Pemprov Jateng disebut tengah gencar mempromosikan benteng peninggalan kolonial Belanda terbesar di Jawa itu.
“Benteng Fort Willem ini kita blow up terus promosinya. Lokasinya strategis di jalur Rawa Pening dan kelihatan langsung dari jalan,” ujarnya. Masrofi menilai, berwisata kini sudah bergeser jadi kebutuhan primer bagi masyarakat.
Baca juga: Inggris Datang, Jateng Pamer Inovasi Hijau dan Potensi Wisata
Banyak keluarga muda yang sengaja menyisihkan uang untuk liburan, meski pilihannya disesuaikan dengan kondisi keuangan. “Wisata sekarang sudah jadi kebutuhan utama. Mau dekat, mau dalam kota, yang penting bisa jalan,” katanya.
Di tengah naiknya biaya hidup, Kota Lama mengajarkan satu hal sederhana: kadang destinasi paling ramai bukan yang paling mahal, tapi yang gratis, estetik, dan ramah kamera ponsel. (tebe)


