BACAAJA, BOGOR — Presiden Prabowo Subianto mengaku puas, tapi belum mau tepuk tangan terlalu cepat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kata dia, sudah bisa dibilang nyaris sempurna dengan tingkat keberhasilan 99,99 persen.
Artinya, hanya kurang 0,01 persen lagi, MBG jadi program andalannya yang berjalan sempurna.
Bacaaja: MBG Ngerampok 70 Persen Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK
Bacaaja: Guru Besar UGM Bongkar Anggaran MBG: Nggak Rasional, Mending Buat Tangani Bencana
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat awal tahun dalam agenda retret di kediamannya di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026).
“Kalau kita pelajari secara objektif statistik, boleh dikatakan kita 99 persen berhasil. Tapi target kita tetap zero defect,” ujar Prabowo.
Alias: hampir sempurna, tapi satu kesalahan pun nggak boleh dianggap remeh.
Diklaim berhasil, tapi masih ada “PR”
Meski optimistis, Prabowo nggak menutup mata. Ia mengakui program sebesar MBG pasti punya celah, mulai dari kekurangan teknis sampai potensi penyimpangan di lapangan.
“Apakah ada kekurangan? Ada. Apakah ada penyimpangan? Pasti ada,” kata dia blak-blakan.
Karena itu, pemerintah terus melakukan evaluasi dan pengawasan berlapis, terutama setelah muncul beberapa laporan masalah, termasuk kasus keracunan makanan di sejumlah daerah.
Menurut Prabowo, pendekatannya jelas: intervensi langsung, bukan pembiaran.
55 juta penerima, Indonesia lebih ngebut dari negara lain
Saat ini, jumlah penerima manfaat MBG sudah mencapai 55 juta orang, sejak program ini resmi dimulai pada 6 Januari 2025.
Prabowo membandingkan capaian ini dengan negara lain. Di Brasil, misalnya, program serupa butuh 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima. Indonesia, kata dia, melesat jauh lebih cepat.
Buat Prabowo, ini jadi alasan untuk optimistis—sekaligus pembenaran bahwa MBG bukan proyek kecil-kecilan.
Prabowo menegaskan, alasan lahirnya MBG sebenarnya sederhana dan pahit: satu dari lima anak Indonesia masih kekurangan gizi. Bahkan, puluhan juta anak berangkat sekolah tanpa sarapan.
Situasi ini, menurutnya, adalah bentuk nyata malanutrisi dan stunting, yang bikin pertumbuhan anak tidak optimal dan fisik mereka lemah sejak dini.
Di titik itu, Prabowo mengutip pesan klasik Presiden pertama RI, Soekarno.
“The hungry stomach cannot wait. Perut yang lapar tidak bisa menunggu.”
Menurut Prabowo, pemimpin yang punya tanggung jawab dan hati nurani tidak boleh menunda urusan perut rakyat, apalagi anak-anak.
Harus tetap dikawal
Klaim keberhasilan 99,99 persen mungkin terdengar impresif. Tapi di saat yang sama, Prabowo juga mengirim pesan jelas: MBG belum selesai.
Target akhirnya bukan sekadar angka statistik, tapi program yang benar-benar aman, tepat sasaran, dan tanpa cacat.
Karena bagi pemerintah—setidaknya versi Prabowo—urusan perut anak bangsa nggak boleh trial and error. (*)


