BACAAJA, BLORA – Warga +62, sini merapat! Lagi-lagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi sorotan. Kali ini datang dari Blora, Jawa Tengah.
DPRD Blora lagi rame bahas isi perjanjian kerja sama antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sama pihak sekolah yang nerima manfaat.
Yang bikin heboh, ada salah satu poin di perjanjian yang nyuruh buat jaga rahasia kalau ada kejadian insiden kayak keracunan makanan. Iya, lo gak salah baca.
Klausul itu lah yang lagi dipersoalin sama DPRD setempat. Ini era transparansi dan keterbukaan informasi, kok ada kasus keracunan malah minta dirahaisain. Gak logis.
Jadi gini duduk perkaranya. Ramai beredar foto perjanjian kerja sama yang isinya 9 poin. Surat ini ditandatangani pihak sekolah dan ditempel materai dan stempel resmi.
Nah, di poin ke-7 disebut, kalau ada kejadian luar biasa alias force majeure —contohnya makanan basi, paket kurang lengkap, atau siswa keracunan— pihak sekolah wajib diem dulu alias gak boleh sebar info, sampai SPPG nemuin “solusi terbaik”.
Lah? Jadi, kalau ada anak muntah karena makanannya bermasalah, gak boleh ngelapor?
Terus, kalau nanti ada yang sampe ninggal -semoga gak sampe terjadi- setelah 1.000 hari baru boleh ngomong, begitu?
Komisi D DRPD Blora murka
Ketua Komisi D DPRD Blora, Subroto, langsung angkat suara pas rapat dengar pendapat bareng Dinas Pendidikan dan SPPG, Kamis (18/9/2025).
“Ini kan eranya keterbukaan. Dan yang dipakai juga duit negara. Kok malah disuruh diem kalau ada masalah?” ujar politikus PDIP itu dengan nada bingung dan geram.
Subroto juga nanya: “Ini perjanjian yang desain siapa, kok bisa isinya kayak gitu?”
Gak mau lama-lama, Subroto langsung minta Dinas Pendidikan cabut semua perjanjian yang isinya kayak gitu. Pokoknya perjanjian itu harus direvisi atau dibatalkan.
Subroto juga ngasih usul yang cukup reasonable: program MBG butuh pengawasan yang bener. FYI, anggaran buat satu dapur MBG aja bisa ratusan juta rupiah per bulan. Jadi gak bisa asal jalan.
“Saya pengin ada pengawas independen yang ngawasin langsung jalannya program MBG ini,” tegasnya.
Sementara itu, dari pihak SPPG, Artika Diannita (koordinator) akhirnya buka suara juga. Dia ngaku, poin kerahasiaan emang ada di perjanjian lama, tapi katanya sekarang udah direvisi.
“Awalnya memang poinnya kayak gitu, tapi sekarang udah disesuaikan sama juknis terbaru,” jelasnya.
Artika berkilah, maksud dari “kerahasiaan” itu sebenernya bukan buat nutupin masalah, tapi biar langsung dilaporin ke SPPG dan diselesaikan secara internal.
“Kalau ada kejadian kayak keracunan, langsung kita urus. Salah satunya dengan bawa ke layanan kesehatan,” tambahnya. (*)


