BACAAJA, SEMARANG – Setahun sudah Ahmad Luthfi–Taj Yasin memimpin Pemprov Jawa Tengah. Kinerjanya sudah mulai kelihatan, meski masih banyak kritik di sana sini.
Tapi di balik hal itu, ada pertanyaan mendasar tentang ideologi pembangunan yang diusung. Apakah Jateng mau jadi pusat industri, atau lumbung pangan?
Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jateng, Zulkifli, nyoba menjawab. Kata dia, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) mencoba mengakomodir keduanga.
Bacaaja: Ada Korupsi Setengah Triliun Rupiah, Luthfi: Bank Jateng Paling Sehat di Indonesia
Bacaaja: Pengamat: Luthfi Nggak Perlu Masuk Gorong-Gorong, Cukup Perkuat Komunikasi
“RPJPD kita itu ada dua spirit. Jateng sebagai pusat industrialistik, dan yang kedua sebagai lumbung pangan,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Meski begitu, ia mengakui tidak sepenuhnya bisa menyeimbangkan dua kepentingan yang saling tarik menarik itu.
“Secara teori pembangunan, harus ada yang dikorbankan. Lahannya cuma segitu, sekitar 3 juta sekian,” akunya.
Maka di sinilah tantangan yang dihadapi kepemimpinan Jateng, baik di periode ini maupun gubernur-wakil gubernur periode sebelumnya atau periode ke depan nanti.
Zulkifli enggan menyebutkan mana yang diprioritaskan Luthfi-Yasin. Dia justru mempersilakan masyarakat untuk menyimpulkan sendiri.
“Biar publik yang menilai,” katanya.
Kita bisa mengetahui prioritas pemerintah saat ini, setidaknya sepintas dengan melihat program dan kinerja setahun terakhir.
Data investasi 2024–2025 nunjukin Jateng lumayan bagus. Nilainya naik dari Rp68,7 triliun jadi Rp88,5 triliun, lonjakan hampir 29 persen. Kenaikan ini bahkan lebih kencang dibanding beberapa provinsi tetangga.
Jateng makin rajin buka karpet merah buat investor. Baru-baru ini, Luthfi mengumumkan sedang ada 9 daerah yang diusulkan jadi kawasan industri baru di Jateng.
Masalahnya, lahan di Jateng bukan karet. Kalau pabrik nambah, sawah bisa berkurang. Kalau sawah dipertahankan, industri harus ngalah.
Sisi lain, sektor pangan Jateng masih jadi tulang punggung nasional. Kontribusinya disebut masih 17 persen secara nasional. Artinya, Jateng bukan pemain kecil urusan beras dan pangan. (bae)


