BACAAJA, SURAKARTA– Jateng belakangan makin sering jadi tempat berkumpulnya para pelari. Dari ajang komunitas, fun run, lari amal, sampai kompetisi berskala nasional dan internasional, event lari terus bermunculan di berbagai daerah.
Sepanjang Januari hingga September 2026, puluhan event lari telah digelar di Jateng. Pada September saja, kegiatan serupa berlangsung di sejumlah daerah, mulai dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Banyumas, hingga Surakarta.
Pada Minggu (27/9/2026) misalnya, ada Solo Run Fest 2026 di Stadion Manahan-Taman Balekambang, Kota Surakarta. Event ini diikuti sekitar 7.000 pelari dengan kategori half marathon, 10K, dan 5K. Pesertanya beragam, mulai dari pelari elite, master, hingga pelajar.
Di hari yang sama, Kabupaten Semarang menggelar Gajah Trail Run (GTR) Ultra dengan rute melintasi Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil. Sementara di Kota Semarang, Sultan Agung Fun Run mengambil titik start di Kantor Gubernur Jateng.
Sepekan sebelumnya, Bank Jateng Friendship Run 2026 juga digelar di Kota Semarang sebagai ajang pemanasan Borobudur Marathon 2026. Sekitar seribu pelari dari berbagai kalangan ikut meramaikan kegiatan tersebut. Sebelumnya, event serupa berlangsung di Kabupaten Boyolali pada Agustus.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menilai event lari punya potensi besar untuk mengembangkan pariwisata olahraga atau sport tourism, sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
“Kegiatan lari itu untuk hidup sehat, selain itu UMKM kita dapat berkembang. Ini bentuk pola hidup sehat di Provinsi Jawa Tengah dan seluruh daerah,” katanya beberapa waktu lalu.
Sekda Jateng, Sumarno juga menyebut penyelenggaraan event lari di berbagai daerah menjadi bagian dari upaya mengembangkan sport tourism. “Kami inginnya nanti di seluruh Jateng ada event trail run. Ini bagian kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah,” kata Sumarno.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jateng Aria Chandra Destianto berharap semakin banyak daerah menggelar kegiatan serupa. Pemprov Jateng, kata dia, siap mendukung event lari dan wisata olahraga di berbagai wilayah. “Tidak hanya di Solo dan Semarang, di kota-kota lain kami tunggu kegiatan serupa,” katanya.
Agenda Unggulan
Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto menyebut Solo Run Fest (SRF) sebagai event tahunan yang telah menjadi salah satu agenda unggulan di Kota Solo.
Menurutnya, konsep sport tourism sejalan dengan upaya mengembangkan pariwisata, menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta memberi ruang bagi UMKM.
“Kami mengusung tema sport tourism, selaras dengan Provinsi Jawa Tengah yang akan menumbuhkan pariwisata, ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja, serta UMKM bahagia,” katanya usai menyelesaikan kategori 5K.
Jumlah peserta SRF juga meningkat. Pada 2025, event tersebut diikuti sekitar 5.000 pelari, sedangkan tahun ini jumlahnya mencapai 7.000 peserta. Respati mengatakan penyelenggaraan akan terus ditingkatkan dengan memperhatikan kualitas acara dan kepuasan peserta.
Ia juga menyebut Surakarta telah menyiapkan empat agenda lari, yakni Solo Run Fest, Mangkunagaran Run, Run for Humanity, dan Soekarno Run. “Ekonomi terus bergulir sampai miliaran setiap event,” jelasnya.
Keseruan Solo Run Fest juga dirasakan peserta dari luar daerah. Grecia Hutapea, pelari asal Jakarta yang mengikuti kategori 10K, menilai penyelenggaraan SRF 2026 menarik.
Meski rute melintasi kawasan Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, ia merasa pelari tidak harus berebut jalur dengan masyarakat. Suasana rute juga dinilai lebih teduh karena banyak pepohonan, ditambah titik cheering yang tersebar. “Lari di sini itu juga sambil lihat budayanya, sempat lewat Mangkunegaran juga,” ujar Grecia.
Event lari pun tak lagi sekadar urusan siapa paling cepat sampai garis finis. Ada yang datang untuk menjaga kebugaran, menikmati suasana kota, atau mengenal budaya setempat. Di sisi lain, pedagang, penginapan, transportasi, dan pelaku usaha lokal ikut mendapat peluang dari ramainya peserta.
Jadi, saat ribuan pelari berlari mengejar catatan waktu, ekonomi daerah punya kesempatan ikut mencatat hasil. Yang penting, jangan sampai pelarinya pulang bawa medali, sementara peluang usaha di sepanjang rute cuma jadi penonton. (tebe)

