BACAAJA, SEMARANG- Suasana hangat memang terasa di acara halalbihalal yang digelar Pemprov Jateng bareng para bupati dan wali kota se-Jateng, Rabu (25/3/2026). Tapi jangan salah, ini bukan sekadar kumpul-kumpul sambil senyum dan saling memaafkan.
Di balik nuansa Lebaran, forum ini berubah jadi ajang konsolidasi. Bahasa simpelnya: nyamain frekuensi biar kerja ke depan nggak ada yang miss. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra blak-blakan bilang kalau acara ini bukan cuma tradisi tahunan. Ada “isi” serius di baliknya.
Baca juga: Rawit Lagi Pedas, Pemprov Gelontor Tiga Ton ke 15 Daerah
“Ini bukan sekadar silaturahmi, tapi juga koordinasi setelah Lebaran. Kita bahas banyak hal, mulai dari ketahanan pangan sampai infrastruktur,” ujarnya.
Nggak cuma itu, koordinasi soal arus mudik dan balik juga ikut dibahas. Maklum, Pati jadi salah satu jalur padat tiap musim Lebaran. Jadi, bukan cuma nostalgia mudik, tapi juga evaluasi biar ke depan lebih rapi.
Reset Semangat
Hal senada juga disampaikan Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari. Menurutnya, hari pertama masuk kerja habis cuti panjang justru jadi momen reset semangat. “Ini waktunya saling memaafkan, tapi juga bangun lagi kebersamaan. Kami kumpul bareng Forkopimda dan Pak Gubernur buat nyatuin langkah,” katanya.
Bahkan, di daerahnya, apel pagi langsung digelar. ASN pun langsung diingatkan: Lebaran boleh selesai, tapi tugas pelayanan tetap jalan.
Baca juga: 14 Daerah di Jateng Kena Sanksi karena Tak Becus Urus Sampah di TPA
Sementara itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi ngasih pesan yang cukup to the point. Nggak ada ruang buat leha-leha setelah mudik. “Jangan habis mudik malah jadi malas. ASN itu panggilan hati, harus siap menghadapi keluhan masyarakat dengan respons positif,” tegasnya.
Menurutnya, halalbihalal bukan sekadar seremoni formal atau open house biasa. Ini adalah ruang buat nyatuin persepsi, memperkuat koneksi, dan yang paling penting: nyiapin energi baru buat kerja. “Tradisi ini penting buat menjaga sinergi antara provinsi dan daerah. Ujungnya tetap sama, pelayanan ke masyarakat harus makin maksimal,” imbuhnya.
Jadi, kalau ada yang mikir halalbihalal cuma ajang makan opor dan salaman formal, mungkin harus update mindset. Di Jateng, maaf-maafan itu cuma pembuka, habis itu langsung lanjut “rapat diam-diam tapi serius”. Lebaran boleh usai, tapi deadline tetap menanti. (tebe)


