BACAAJA, SEMARANG – Indonesia punya kekayaan alam melimpah. Termasuk hutan dengan segala keanekaragaman hayatinya.
Namun, bukannya dijaga, tapi justru dibabat hingga hampir habis.
Data terbaru bikin kaget: sejak 2002 sampai 2024, Indonesia udah kehilangan lebih dari 10,7 juta hektar hutan primer.
Bacaaja: Putusan MK Bikin Lega: Masyarakat Bebas Berkebun di Hutan
Bacaaja: Hutan Tanaman Industri untuk Biomassa, Kemenhut: Rehabilitasi Lahan Kritis dan Dukung EBT
Yes, hutan primer, yang mestinya paling dilindungi. Kita jadi negara dengan kehilangan hutan primer terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Not the kind of ranking we want.
Tahun 2023 aja, hutan primer yang hilang tembus 292 ribu hektar. Tahun 2024 memang turun dikit ke 258 ribu hektar, tapi tetep aja, itu angka yang gede banget.
Di sisi lain, KLHK punya angka beda: luas hutan 2024 masih 95,5 juta hektar, dengan deforestasi netto 175 ribu hektar (udah dikurangi reforestasi).
Beda data ini muncul karena beda metode dan definisi. Tapi intinya sama: hutan kita makin menipis.
Menurut Global Forest Watch, penyebab utamanya jelas:
- ekspansi perkebunan (terutama sawit)
- penebangan komersial
- alih fungsi lahan untuk industri & pemukiman
Dampaknya? Nggak Main-main
Hutan primer itu bukan cuma “pohon banyak”. Itu rumahnya ribuan spesies unik, penyerap karbon raksasa, dan pengatur iklim alami. Jadi ketika jutaan hektar hilang:
- habitat satwa langka lenyap
- risiko banjir & longsor naik
- iklim makin nggak karuan
- masyarakat sekitar hutan kehilangan sumber hidup
Dan FYI, hutan yang diganti sama kebun sawit atau hutan tanaman industri nggak bisa gantiin fungsi hutan primer. Ekosistemnya beda 100%. (*)

