BACAAJA, SEMARANG — Pemandangan gemas sekaligus bikin hati hangat terlihat di Fatimah Zahra Semarang.
Puluhan anak berjalan rapi mengenakan pakaian ihram, mengikuti setiap tahapan ibadah dengan wajah serius tapi tetap penuh keceriaan.
Mereka bukan benar-benar berangkat haji, melainkan para “calon haji cilik” dari TK Roudlotul Abidin Blanten, Nyatnyono, Ungaran Barat yang sedang menjalani manasik haji.
Kegiatannya bukan cuma edukatif, tapi juga fun. Tawa anak-anak sesekali pecah, namun mereka tetap fokus mengikuti arahan guru.
Bacaaja: Praktisi PAUD: Fungsi Eksekutif Anak Dibentuk dari Pengalaman Hidup
Kepala Sekolah KB-TK Roudlotul Abidin Blanten, Emie Zulianingsih Rakhmayanti, mengatakan kegiatan ini dirancang agar anak-anak bisa belajar agama dengan cara yang lebih nyata, bukan sekadar mendengar, tapi langsung mencoba.
“Kami ingin mengenalkan rukun Islam, khususnya ibadah haji, lewat metode pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai usia anak,” ujarnya, Selasa (10/02/2026).
Didampingi guru dan didukung penuh orang tua, para siswa menjalani rangkaian manasik layaknya jemaah sungguhan, tentu dalam versi yang aman dan ramah anak.
Mulai dari memakai ihram, tawaf mengelilingi miniatur Ka’bah, sa’i, wukuf, hingga melempar jumrah, semuanya dijalani dengan antusias.
Bacaaja: Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi
Bukan cuma soal tata cara ibadah, manasik ini juga jadi cara sekolah menanamkan nilai penting seperti kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, dan tanggung jawab sejak dini.
Menurut Emie, penting bagi anak untuk memahami bahwa ibadah bukan sesuatu yang terasa berat, tapi bisa dijalani dengan hati gembira.
Dengan pendekatan yang interaktif, sekolah berharap anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi religius, berakhlak baik, dan terbiasa mencintai kegiatan keagamaan.
“Kami berharap ini menjadi pengalaman berharga sekaligus fondasi dalam membangun generasi Qurani yang cerdas dan beriman,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan sekolah, momen ini menunjukkan satu hal sederhana: belajar nilai kehidupan bisa dimulai sejak kecil. Dan dari langkah-langkah mungil itu, harapannya kelak lahir generasi besar. (*)


