BACAAJA, SEMARANG- Ratusan buruh di Kota Semarang kompak ndatengin Gedung DPRD Kota Semarang di Jl Pemuda, Senin (3/11). Tujuannya cuma satu: minta upah naik 100 persen. Katanya, gaji sekarang udah nggak nyelamatin isi dompet, apalagi harga kebutuhan terus ngegas tanpa rem.
“Upah di Semarang jauh banget ketinggalan dari ibu kota provinsi lain,” ujar Sumartono, perwakilan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Tengah. Dari hasil hitung-hitungan mereka, UMK Semarang 2026 seharusnya Rp4,1 juta, biar buruh nggak cuma hidup ‘ngepas’ tiap tanggal muda.
FSPMI juga minta upah sektoral (UMSK) buat industri yang risikonya tinggi, kayak logam dan maritim, dikasih tambahan 6 persen dari UMK. “Farmasi, tekstil, dan alas kaki minta naik 4 persen, sektor agro 2 persen,” lanjutnya.
Kalau tuntutan ini nggak direspons, buruh janji bakal lanjut aksi. “Hari ini DPRD, besok wali kota. Kalau tetep adem ayem, ya siap-siap lihat kami di jalan lagi,” tegas Sumartono.
Ketua Federasi Serikat Pekerja Indonesia Perjuangan (FSPIP) Jawa Tengah, Karmanto, juga sepakat, perjuangan buruh bukan buat hidup mewah, tapi biar bisa makan enak tanpa utang. “Upah buruh sekarang belum nyentuh realitas hidup. Kami cuma minta keadilan, bukan kemewahan,” katanya.
Jadi Penengah
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, berusaha jadi penengah. Ia janji bakal fasilitasi dialog antara buruh dan Pemkot. “Kita nggak mau suasana memanas. Jadi, kita buka ruang diskusi bareng Disnaker, Dinas Perindustrian, dan bagian hukum,” ujarnya.
Pilus, sapaan akrabnya bilang, komunikasi itu penting biar aspirasi bisa nyambung tanpa harus pakai toa dan spanduk. “Kalau tiap pihak punya versi sendiri tapi nggak duduk bareng, ya ujung-ujungnya nggak ketemu,” tambahnya bijak. (tebe)


