BACAAJA, MEXICOCITY – Meksiko barat mendadak lumpuh. Jalanan sepi, sekolah ditutup, dan warga diminta tetap di rumah. Semua dipicu satu kabar besar: gembong narkoba paling dicari, El Mencho, tewas dalam operasi militer.
Nama aslinya Nemesio Rubén Oseguera Cervantes. Selama ini ia dikenal sebagai otak di balik salah satu kartel paling brutal di Meksiko. Kematian pria 59 tahun itu langsung memantik gelombang kekerasan.
Operasi penangkapan dilakukan militer Meksiko dengan dukungan intelijen dari Washington. Tapi situasinya berubah jadi baku tembak sengit. El Mencho terluka dan meninggal saat diterbangkan ke Mexico City.
Tak lama setelah kabar kematiannya menyebar, kekacauan pecah di berbagai wilayah. Orang-orang bersenjata memblokir jalan utama, membakar mobil dan bus, bahkan bentrok dengan aparat.
Sedikitnya 26 orang dilaporkan tewas. Korban termasuk anggota pasukan keamanan serta orang-orang yang diduga bagian dari sindikat kartel.
Kerusuhan paling parah terjadi di negara bagian Jalisco, basis utama kelompoknya. Di sana, suasana berubah mencekam dalam hitungan jam.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, langsung meminta sekitar 8 juta warga tetap di rumah. Transportasi umum dihentikan sementara demi keamanan.
Ibu kota negara bagian, Guadalajara, nyaris tutup total. Kendaraan dibakar di pusat kota. Warga memilih mengunci diri di rumah.
Padahal Guadalajara dijadwalkan jadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Tapi hari itu, kota besar tersebut terlihat seperti zona konflik.
Di pesisir barat, suasana juga tak kalah tegang. Asap hitam membumbung di atas Puerto Vallarta, destinasi wisata favorit dengan pantai Pasifiknya.
Sebagian besar penerbangan menuju kota resor itu ditangguhkan. Maskapai internasional membatalkan puluhan jadwal. Wisatawan yang sedang liburan mendadak terjebak situasi darurat.
Kartel yang dipimpin El Mencho dikenal sebagai Kartel Generasi Baru Jalisco atau CJNG. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini menjelma jadi salah satu organisasi kriminal paling kuat di Meksiko.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah 15 juta dolar AS untuk penangkapannya. Gedung Putih mengonfirmasi memberi dukungan intelijen dalam operasi tersebut.
Tekanan dari Washington memang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama terkait penyelundupan fentanil, metamfetamin, dan kokain ke wilayah AS.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyatakan aparat telah membersihkan ratusan penghalang jalan yang dibuat kartel di puluhan negara bagian.
Meski begitu, pertanyaan besar muncul: apa yang terjadi setelah ini? Sejarah “perang melawan narkoba” di Meksiko menunjukkan satu bos tumbang sering kali digantikan figur baru yang tak kalah brutal.
Beberapa sumber menyebut anak tirinya, Juan Carlos, sebagai calon penerus yang berpotensi menyatukan kembali jaringan CJNG.
Jika kartel pecah jadi beberapa faksi, risiko perang antar-kelompok bisa makin besar. Itu artinya, tingkat kekerasan justru berpotensi melonjak.
Kematian El Mencho memang jadi pukulan besar bagi jaringan narkoba internasional. Tapi bagi Meksiko, ini juga bisa jadi awal babak baru yang penuh ketidakpastian.
Satu hal yang jelas, satu operasi militer telah mengguncang hampir seluruh negeri. Dan untuk sementara, ketenangan masih jadi barang langka di banyak sudut Meksiko.(*)


