BACAAJA, SEMARANG- Fenomena pelajar ikut demo jadi perhatian serius DPRD Jateng. Anggota Komisi E, HM Dipa Yustisia Pasa melihat ada benang merah antara aksi di jalan dengan kondisi anak muda hari ini.
Menurutnya, banyak pelajar yang ikut demo bukan semata karena paham isu. Tapi ada dorongan lain, salah satunya keinginan untuk diakui atau sekadar eksis. Ia menyebut kondisi ini sebagai krisis eksistensi. Di mana viral dan perhatian publik jadi ukuran kebanggaan.
Baca juga: Ihwal Unjuk Rasa Pelajar, Disdikbud Jateng: Demo Boleh tapi Jangan Gampang Kena Hasutan
“Sekarang kalau tidak viral, seolah-olah tidak ada keadilan. Ini yang harus kita cermati,” ujarnya saat menjadi narasumber diskusi bertema ‘No Chaos, No Justice?’ dalam program Titik Kumpul 2 SKS hasil kerja sama Peradi SAI dan media BacaAja, Rabu (8/4/2026).
Dipa menilai, tren ini juga dipengaruhi kuatnya media sosial. Informasi menyebar cepat, tapi tidak semuanya benar atau utuh. Akibatnya, opini mudah terbentuk. Bahkan bisa digiring ke arah tertentu tanpa disadari, termasuk oleh pelajar.
Hak Konstitusional
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa hak untuk bersuara tetap harus dihormati. Pelajar tidak boleh dilarang menyampaikan pendapat. Namun, ada batas yang harus dijaga. Terutama agar tidak terjebak aksi yang justru merugikan diri sendiri. “Bersuara itu hak konstitusional. Tapi harus ada koridornya,” tegasnya.
Meski begitu, Dipa mengapresiasi upaya pemerintah dan Dinas Pendidikan. Berbagai forum diskusi dan pendekatan ke pelajar sudah mulai dilakukan. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa pendekatan lama tidak lagi cukup. Cara komunikasi harus diubah agar lebih dekat dengan generasi sekarang.
Baca juga: Satu Pelaku Demo Rusuh di Semarang Masih Pelajar SMK, Nekat Abaikan Saran Guru
“Gaya komunikasi harus menyesuaikan zaman. Tidak bisa lagi terlalu kaku,” katanya. Menurutnya, ini jadi pekerjaan rumah bersama. Bukan hanya pemerintah, tapi juga sekolah dan masyarakat. Tujuannya agar anak muda tetap bisa aktif dan peduli. Tapi tidak sekadar mengejar eksistensi, apalagi sampai terlibat aksi yang berisiko.
Di era di mana trending topic bisa lebih cepat dari logika, jadi kritis kadang kalah sama keinginan tampil. Padahal, suara yang kuat itu bukan yang paling viral, tapi yang paling paham kenapa dia harus disuarakan. (bae)


