Lulu Aprilia adalah mahasiswi jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang. Asal Banyumas.
Menutup aurat bukan bentuk keterbatasan, tetapi bentuk kendali atas diri sendiri dan cara menentukan bagaimana tubuh dipandang oleh orang lain.
Syariat Islam memberi pedoman untuk berpakaian bagi umatnya, termasuk bagi para perempuan. Seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan menjadi bagian yang wajib ditutupi para muslimah. Begitu mayoritas ulama berpendapat.
Keindahan tubuh perempuan menjadi alasan adanya pendapat agar menutup aurat bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga kehormatan para perempuan. Tuntunan ini hadir sebagai bentuk perlindungan sekaligus identitas bagi perempuan muslim.
Banyak analogi tentang perempuan menutup aurat, seperti permen yang masih terbungkus cenderung lebih terjaga dibandingkan permen yang sudah terbuka. Permen yang terbuka akan lebih banyak kesempatan bagi lalat atau semut untuk hinggap.
Analogi itu ingin menggambarkan pentingnya penjagaan diri. Perempuan yang menutup auratnya dengan baik akan menimbulkan rasa segan dan hormat dari orang lain. Ia dianggap telah menunjukkan batas yang jelas atas dirinya sendiri.
Berbeda halnya dengan perempuan yang berpakaian minimalis. Beberapa anak muda muslim masa kini sering kali lebih banyak menghadapi godaan dari mulut laki-laki yang tidak berakhlak. Meski demikian, perlu dipahami bahwa kesalahan juga berada pada pelaku yang tidak menjaga pandangan dan lisannya. Menutup aurat bukan semata-mata untuk menghindari gangguan, tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan cara menjaga kehormatan diri di tengah kehidupan sosial.
Pakaian terbuka, tipis dan ketat sangat banyak diminati perempuan kekinian. Fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk kebebasan berekspresi, mengikuti tren global, dan simbol kepercayaan diri. Pertanyaan yang kerap muncul kemudian ialah, ke mana arah berpikir para perempuan ini padahal zaman dulu mereka diperjuangkan agar penindasan, perbudakan, hingga pelacuran terhadap perempuan dihapuskan. Lalu mengapa sekarang seolah membuka kembali ruang untuk objektifikasi tubuh perempuan itu sendiri?
Bukankah jika berpakaian sesuai syariat akan menimbulkan rasa bebas bergerak dan bebas berekspresi karena tidak adanya lekukan tubuh yang terekspos? Pakaian yang longgar justru memberi ruang gerak yang lebih nyaman dan aman tanpa harus memikirkan pandangan orang terhadap bentuk tubuh perempuan. Dalam perspektif ini, menutup aurat bukan bentuk keterbatasan, tetapi bentuk kendali atas diri sendiri dan cara menentukan bagaimana tubuh dipandang oleh orang lain.
Jika di negara ini yang merupakan negara tropis udara panas menjadi alasan para perempuan muslim tidak mengenakan pakaian yang menutup rapat aurat, sekarang sudah banyak sekali pakaian yang didesain nyaman saat panas dan tetap terlihat sopan. Teknologi tekstil berkembang, bahan semakin ringan dan menyerap keringat. Artinya, alasan cuaca tidak lagi sepenuhnya relevan.
Memang banyak dari kita, terutama kalangan perempuan sendiri, menganggap hijab membelenggu batas berekspresi karena tidak bebas menggunakan model yang kita mau. Perempuan dengan fitrah ingin dipuji dan dilihat sering kali merasa terbebani karena tidak dapat melakukan “tuntunan” itu secara leluasa. Ada keinginan untuk tampil, diakui, dan diapresiasi, sementara hijab dipahami sebagai pembatas ruang tersebut.
Pada kenyataannya pengalaman perempuan terhadap hijab tidak selalu sama. Seorang perempuan yang penulis kenal secara pribadi menceritakan bahwa dalam beberapa kasus, hijab justru pernah hadir dalam bentuk tekanan dari lingkungan keluarga.
“Aku melihat di keluargaku sendiri berhijab itu seperti paksaan. Aku mungkin agak trauma, karena dulu kakak aku pernah dipaksa oleh tante aku sampai berantem hebat setelah ayah aku meninggal. Aku juga pernah dimaki-maki dan dipermalukan di depan kerabat dan teman-teman tante aku karena tidak memakai hijab,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keputusan seseorang terkait hijab tidak selalu sederhana. Ada pengalaman keluarga, tekanan sosial, bahkan trauma yang mempengaruhi cara seseorang memandang praktik berbusana sesuai kuntunan keagamaan tersebut.
Di sisi lain, perempuan yang tidak berhijab juga sering menghadapi stereotip tertentu dari masyarakat. Kawan perempuan saya itu menilai bahwa umat Islam cenderung dominan memberikan penilaian yang terlalu cepat terhadap pilihan seorang perempuan terkait keputusannya berhijab.
“Menurut aku yang sering orang salah pahami adalah anggapan bahwa perempuan yang tidak berhijab itu perempuan yang membangkang, tidak benar, atau tidak mengerti agama,” ucapnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa pilihan berpakaian sering kali langsung dikaitkan dengan kualitas moral atau religiusitas seseorang. Padahal realitasnya tidak selalu demikian. Setiap perempuan memiliki latar belakang pengalaman, proses berpikir, serta perjalanan spiritual yang berbeda-beda.
Pandangan yang sama juga dirasakan oleh kawan perempuan saya yang lainnya. Ia merasa hijab justru memberinya rasa aman dan kenyamanan ketika berada di ruang publik. “Saat memakai hijab aku merasa lebih tenang dan terlindungi, karena ada batas yang jelas tentang bagaimana tubuhku dilihat oleh orang lain,” tegasnya.
Pada akhirnya saya meyakini sepenuhnya menutup aurat tetap sepantasnya dipahami sebagai bentuk menjaga kehormatan diri. Jika seseorang sudah merasa seluruh tubuhnya dilihat maka percuma saja ia memakai pakaian jika keluar rumah. Dari situ bisa muncul beban dalam pikiran, rasa tidak nyaman, bahkan kehilangan privasi atas diri sendiri. Ada kehormatan yang dijaga. Ada batas yang ditentukan sendiri, bukan ditentukan oleh tuntutan pandangan orang lain di sekitar kita. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


