Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Debat Publik dan Devaluasi Kepakaran
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Debat Publik dan Devaluasi Kepakaran

Redaktur Opini
Last updated: Maret 16, 2026 8:16 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Diskusi tidak lagi berlangsung sebagai pertukaran gagasan atau debat kaya argumen, tetapi sebagai kontestasi retorika.

 

Sebuah potongan debat di televisi nasional baru-baru ini viral di media sosial. Forum yang semula dimaksudkan sebagai ruang diskusi publik itu menghadirkan beberapa narasumber untuk membahas isu politik internasional.

Di antara mereka terdapat akademisi yang mencoba menjelaskan persoalan secara sistematis. Namun, percakapan yang seharusnya berkembang menjadi pertukaran argumen justru berubah menjadi ketegangan yang semakin memanas.

Salah satu momen yang paling mencolok terjadi ketika seorang narasumber memotong penjelasan lawan debatnya dengan mengatakan “saya lebih tahu dari anda”. Pada saat yang sama, argumen yang sedang dibangun malah disederhanakan secara serampangan dengan mengatakan “saya nggak ada urusan dengan perasaan anda”.

Penjelasan yang belum selesai dipaparkan dipotong, dan diskusi perlahan berubah menjadi serangan personal. Dalam hitungan menit, forum yang seharusnya memberi ruang pada penjelasan justru berubah menjadi panggung retorika yang emosional.

Peristiwa ini sebenarnya lebih dari sekadar konflik antarindividu. Ia memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu melemahnya posisi kepakaran dalam ruang publik. Dalam tradisi diskusi ilmiah, kepakaran tidak berarti seseorang selalu benar. Namun, kepakaran menunjukkan bahwa sebuah argumen lahir dari proses panjang, dari pembacaan, penelitian, metodologi, dan disiplin berpikir.

Ketika seorang pakar berbicara, yang dibawa bukan sekadar opini (setidaknya dalam batas kepakarannya), melainkan kerangka pengetahuan yang dibangun melalui proses intelektual yang panjang. Persoalan jadi muncul ketika ruang debat publik tidak lagi memberi ruang bagi proses semacam itu. Penjelasan yang memerlukan waktu dan argumentasi kalah oleh klaim spontan bahwa seseorang “lebih tahu”.

Akibatnya, diskusi tidak lagi berlangsung sebagai pertukaran gagasan atau debat kaya argumen, tetapi sebagai kontestasi retorika. Siapa yang paling keras atau paling percaya diri sering kali tampak lebih dominan dibanding mereka yang mencoba menjelaskan secara sistematis.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara politik dipertontonkan di media. Dalam banyak forum publik, debat tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang argumentasi, tetapi juga sebagai forum pertunjukan.

Retorika emosional, potongan kalimat yang tajam, dan konflik terbuka sering kali lebih menarik perhatian penonton daripada analisis yang panjang dan hati-hati. Politik perlahan berubah menjadi performa, di mana yang dinilai bukan hanya argumen, tetapi juga dramatisasi yang mampu memikat audiens.

Ketika logika pertunjukan ini mendominasi ruang publik, posisi kepakaran berpotensi menjadi semakin rentan. Penjelasan yang kompleks mudah dipatahkan oleh klaim yang lebih sederhana dan dramatis.

Dalam situasi seperti itu, pendapat pakar sering kali tidak lagi diperlakukan sebagai hasil dari proses keilmuan yang panjang, melainkan sekadar satu opini di antara banyak opini lain yang bersaing di ruang publik. Ketika batas antara pengetahuan dan opini menjadi kabur, ruang bagi argumentasi yang serius pun semakin menyempit.

Peristiwa debat yang viral itu mungkin hanya satu contoh kecil. Namun, ia memperlihatkan gejala yang lebih luas,  ketika ruang publik semakin dipenuhi oleh performa emosional penjelasan yang serius semakin sulit mendapatkan tempat.

Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan lagi sekadar siapa yang memenangkan perdebatan di televisi. Pertanyaannya kini jauh lebih mendasar: apakah ruang publik kita masih memberi ruang bagi pengetahuan untuk didengar, atau justru semakin mengubah debat menjadi sekadar pertunjukan?

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Cukai Khusus Rokok Ilegal: Menimbang Jalan Tengah antara Penertiban dan Keadilan Fiskal

Watak Feodalisme dan Patriarki Menyuburkan Praktik “Child Grooming”

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo

Manfaat Sambiloto untuk Mengobati Diabetes Melitus

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Cocok Banget Buat Pemudik! Zikir di Tanjakan dan Turunan ala Rasulullah
Next Article Lafadz Ijab Qobul Zakat Fitrah Simpel, Biar Ibadah Makin Mantap

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pengendara melintas di ruas yang jalan yang sedang diperbaikin di kawasan Industri Candi, Semarang, Senin (16/3/2026). (dul)

Jalan di Kawasan Industri Candi Diperbaiki, Warga: Gak Bikin Kami Was-was Lagi

Sekda Jateng: Kolaborasi Swasta Bikin Pulang Kampung Makin Gampang

Mudik Lewat Semarang? Tenang, Ada Posko Gratis: Bisa Ngecas Badan, Motor sampai Wifi

Berkas Lengkap, Kasus Penggelapan Kredit Anggota TNI Bakal Disidang

Ratusan Warga Semarang Pulang Kampung Gratis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya

November 27, 2025
Opini

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Desember 10, 2025
Opini

Urban Parenting dan Mitos “Anak Baik-Baik Saja”

Januari 13, 2026
Ilustrasi umbi porang.
Opini

Menilik Potensi Umbi Porang sebagai Alternatif Pengobatan Diabetes Melitus

November 5, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Debat Publik dan Devaluasi Kepakaran
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?