BACAAJA, SEMARANG – Mohammad Miftahul Arief punya perjalanan panjang sebelum menyandang gelar doktor. Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng.
Kini, Arief resmi menjadi Doktor Studi Islam UIN Walisongo Semarang. Guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang itu meraih nilai 3,98 atau nyaris sempurna.
Bagi Arief, gelar tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan. Bahkan delapan tahun lalu, datang ke ujian terbuka doktor milik orang lain saja sudah membuatnya senang.
“Saya tak pernah bermimpi jadi doktor. Dulu, mengantar famili yang ujian terbuka sudah senang sekali bisa foto di photobooth-nya,” ujarnya, Jumat (2/10/2026).
Bacaaja: Ya Ampun, Ini Doktor Hukum yang Bikin Kaget!
Bacaaja: Membanggakan! Ketua Golkar Jateng M Saleh Raih Gelar Doktor Hukum, IPK Sempurna
Teliti Strategi MI di Tengah Persaingan Sekolah
Dalam ujian promosi doktor, Rabu (30/9/2026), Arief mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.
Penelitian itu berangkat dari fenomena menurunnya jumlah siswa MI di sejumlah kota besar di Jawa. Namun, beberapa MI di Kota Semarang justru menunjukkan pertumbuhan positif.
Arief kemudian meneliti empat madrasah, yakni MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.
Hasil penelitiannya menunjukkan masyarakat perkotaan kini punya banyak pertimbangan saat memilih madrasah. Bukan hanya soal agama atau jarak sekolah dari rumah.
Mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, hingga reputasi lembaga ikut menjadi pertimbangan.
“Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga,” jelasnya.
Temuan itu kemudian ia hubungkan dengan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P.
Dari penelitian tersebut, Arief merumuskan Urban-Spiritual Resonance Model. Model ini memadukan strategi pemasaran modern dengan nilai spiritual yang menjadi identitas madrasah.
Model itu kemudian menghasilkan empat tipologi pemasaran madrasah, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.
Menurut Arief, setiap madrasah tak harus menggunakan pola yang sama. Strateginya bisa disesuaikan dengan karakter masyarakat dan kekuatan masing-masing. (bae)

