BACAAJA, SEMARANG- Air Curug Gondoriyo yang berada di Kelurahan Gondoriyo, Ngaliyan, Semarang masih setia mengalir seperti dulu. Pepohonan tetap hijau, udara masih sejuk, dan jalur menuju lokasi sebenarnya tak banyak berubah. Tapi ada satu hal yang bikin suasananya beda: sepi.
Curug yang dulu sempat jadi tempat favorit warga kini tampak kotor, kurang terawat, dan seperti hidup dari sisa-sisa ingatan masa lalu. Feri (55), warga setempat yang sudah lama mengikuti perjalanan Curug Gondoriyo ingat betul bagaimana awal wisata ini dibuka. Dengan nada santai, ia menyebut Curug Gondoriyo mulai dikenal sejak awal 2000-an. “Kalau dibuka ya sekitar tahun 2000-an,” katanya singkat.
Baca juga: Semarang Gaspol Jadi Kota Wisata: Event Dibikin Meriah, Kotanya Dipoles Biar Makin Keren
Sejak awal, pengelolaan curug ini dilakukan oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) warga sekitar. Pemerintah memang sempat memberi bantuan, tapi roda utama pengelolaan tetap dipegang masyarakat lokal.
“Pokdarwis itu dari wilayah sini. Pemerintah ada bantu sebagian, tapi yang ngelola ya warga,” jelas Feri. Masa keemasan Curug Gondoriyo terjadi sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, pengunjung ramai, pedagang kecil ikut kecipratan rezeki, dan UMKM lokal hidup.
Curug bukan cuma tempat wisata, tapi juga sumber penghasilan warga. Sayangnya, pandemi jadi titik balik yang bikin semuanya melambat. “Setelah Covid itu mandek. Sebelumnya masih ramai,” ujarnya.
Kehilangan Denyut
Sejak saat itu, perawatan mulai terabaikan. Jalur yang dulu sering dilewati wisatawan kini jarang tersentuh. Warung-warung kecil satu per satu tutup. Curug Gondoriyo pelan-pelan kehilangan denyutnya.
Sebagai warga lokal, Feri mengaku sedih melihat kondisi sekarang. Menurutnya, saat wisata hidup, manfaatnya dirasakan banyak orang, bukan hanya pengelola. “Kalau ramai ya senang. Bisa bantu UMKM, bantu orang banyak,” tuturnya.
Baca juga: Pemkot Semarang Kumpulkan Pelaku Wisata Bahas Arah Baru Pariwisata Kota
Soal masa depan, harapan warga sebenarnya sederhana. Bukan proyek besar atau bangunan megah, tapi kebersamaan dan kepedulian. “Mungkin ya dibantu orang-orang sekitar. Harus saling peduli,” katanya.
Curug Gondoriyo sejatinya belum habis. Alamnya masih ada, airnya masih mengalir, dan ceritanya belum selesai. Yang hilang mungkin bukan keindahannya, tapi perhatiannya. Tinggal mau atau tidak, wisata yang pernah jadi kebanggaan ini dihidupkan lagi bersama-sama. Curug-nya masih setia mengalir, tapi manusianya saja yang pergi. (dul)


