BACAAJA, SEMARANG– Olahraga catur di Kota Semarang pelan-pelan mulai naik kelas. Kalau dulu pertandingan lebih sering identik dengan sekolah atau balai kelurahan, kini olahraga adu strategi ini mulai berani masuk ke hotel, mal, hingga tempat yang lebih ramai.
Perubahannya bukan cuma soal lokasi pertandingan yang makin keren. Di balik papan catur, ada upaya memperkuat kompetisi sekaligus membangun regenerasi pemain.
Ketua Pengkot Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Semarang, Eko Budi Santoso mengatakan, pembinaan pemain masih menjadi perhatian utama. Terutama untuk kelompok yunior dan putri.
Salah satu cara yang diterapkan adalah lewat kompetisi antarklub dengan aturan komposisi pemain. Dalam satu tim, klub wajib memiliki setidaknya satu pemain yang merupakan murid dari klub lokal. Sementara pemain dari luar klub yang dipinjam dibatasi maksimal dua orang.
Baca juga: Cakti Rajasa Juara Turnamen Catur Hardiknas Tingkat SD di Blora
Aturan ini justru membuat persaingan antarklub semakin hidup. “Dengan komposisi itu, klub-klub akhirnya berlomba mendatangkan pemain. Di situ ada transfer knowledge,” kata Eko yang juga dosen Unnes ini.
Bukan hanya kemampuan bermain yang ikut berpindah. Pemain dari luar Semarang bisa semakin dikenal, sementara pemain lokal mendapat kesempatan menyerap pengalaman dan strategi dari pemain yang sudah lebih dulu punya jam terbang.
Kompetisi catur di Semarang juga mulai membuka pintu lebih lebar. Bukan cuma klub konvensional, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) catur dari perguruan tinggi juga boleh ikut bertanding.
Eko menyebut sejumlah kampus memiliki potensi pemain yang cukup bagus, di antaranya Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). “UKM boleh ikut. Jadi bukan hanya klub, tetapi UKM kampus juga bisa,” ujarnya.
Klub Catur
Saat ini ada sekitar 19 klub catur yang telah terverifikasi di Kota Semarang. Dari jumlah tersebut, 16 klub sudah memastikan ambil bagian dalam kompetisi antarklub yang akan berlangsung pada Minggu, (13/9/2026) di Verve Bistro & Coffe Bar, semarang. Sisanya masih dalam tahap konfirmasi.
Bagi Percasi, turnamen bukan sekadar ajang mencari pemenang. Pertandingan menjadi semacam rapor untuk melihat sejauh mana hasil latihan pemain. Sebab, kemampuan yang diasah saat latihan perlu diuji di papan pertandingan. “Tanpa turnamen, pembinaan itu kita tidak bisa melihat hasilnya,” katanya.
Meski geliat catur mulai terasa, Percasi Kota Semarang masih punya pekerjaan rumah yang cukup serius, terutama soal regenerasi pemain yunior dan putri. Rencananya, Percasi akan membuat turnamen khusus yunior putri pada 2027.
Penjaringan pemain juga akan dilakukan dengan menggandeng sekolah-sekolah. Masalahnya, masuk ke lingkungan sekolah ternyata tidak semudah memindahkan bidak kuda.
Baca juga: Porwakos 2026 Dibuka, Agustina: Menang Itu Bonus, Persaudaraan yang Juara
Percasi sudah lama memikirkan cara mendekatkan catur dengan dunia pendidikan. Namun, urusan birokrasi terkadang membuat langkah tersebut harus dilakukan pelan-pelan.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar menemukan anak yang bisa bermain catur. Lebih jauh, bagaimana membuat mereka tertarik dan merasa catur bukan permainan yang membosankan. “Memang harus sabar. Bagaimana supaya catur itu menarik dan digemari,” ujar Eko.
Dengan kompetisi yang mulai merambah berbagai ruang, klub yang makin aktif, hingga kampus yang ikut turun tangan, catur Semarang punya modal untuk berkembang. Tinggal bagaimana papan catur itu tidak hanya diisi pemain lama, tetapi juga wajah-wajah baru.
Catur memang mengajarkan satu hal: jangan asal melangkah. Semarang pun sedang menyusun langkahnya. Hotel sudah, mal mulai, kampus ikut. Tinggal satu langkah penting: jangan sampai pion-pion mudanya kehabisan jalan sebelum sempat jadi ratu. (tebe)

