BACAAJA, SEMARANG- Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng lagi ekstra waspada nih. Soalnya, kasus campak mulai naik dan disebut-sebut lebih gampang nular dibanding Covid-19. Yup, kamu nggak salah baca.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo ngungkapin, kalau sampai 31 Maret 2026 udah ada 1.797 kasus suspek campak yang tersebar di 30 kabupaten/kota di Jateng.
Dari jumlah itu, 144 kasus udah positif campak, dan 18 lainnya rubella. Yang bikin makin waswas, ada lima daerah yang trennya naik terus dan mulai mengarah ke kejadian luar biasa (KLB).
Baca juga: Campak Mulai Ngegas Lagi, Jateng Siaga Jangan Anggap Remeh
“Kalau Covid-19 bisa nular ke sekitar lima orang, campak ini bisa sampai 18 orang,” kata Heri. Gokil sih, penyebarannya jauh lebih cepat, apalagi buat anak-anak dan kelompok rentan.
Nggak cuma gampang nular, dampaknya juga nggak main-main. Campak bisa bikin komplikasi serius, mulai dari pneumonia, infeksi telinga, radang otak, sampai gangguan pencernaan. “Yang paling bahaya itu pneumonia, bisa fatal terutama buat anak-anak kalau nggak ditangani dengan cepat,” jelasnya.
Enam Langkah
Buat nge-rem penyebaran, Dinkes Jateng langsung gerak cepat dengan enam langkah utama. Mulai dari investigasi epidemiologi dan pelacakan kontak erat, biar kasus baru bisa cepat ketahuan.
Lalu ada pengambilan sampel buat memastikan diagnosis, serta penanganan pasien lewat isolasi minimal tujuh hari sejak muncul ruam. Nggak ketinggalan, pasien juga dikasih vitamin A dan terapi sesuai kondisi.
Selain itu, setiap kasus wajib dilaporkan maksimal 24 jam, sambil terus dipantau juga cakupan imunisasi di masyarakat. Terakhir, Dinkes juga fokus mencegah anak-anak yang belum lengkap imunisasinya alias “drop out” vaksin.
Baca juga: Lebaran Seru Jalan, Awas Campak Diam-Diam Ikut Ngintip Anak
“Intinya, kita pengin mutusin rantai penularan. Kuncinya tetap di imunisasi dan pola hidup bersih sehat,” tegas Heri. Masyarakat juga diminta nggak santai. Kalau ada gejala campak di sekitar, langsung lapor ke fasilitas kesehatan terdekat biar bisa cepat ditangani.
Di saat kita mulai santai karena Covid-19 udah nggak segalak dulu, eh malah campak diam-diam naik level. Jadi, mungkin bukan virusnya yang makin ganas, tapi kita yang mulai terlalu santai. (tebe)


