BACAAJA, SEMARANG – Buruh memang nggak boleh santai-santai. Apalagi jelang penetapan UMK. Mereka mendesak gaji layak dengan unjuk rasa.
Di Semarang, ratusan buruh mengepung balai kota pada Senin (22/12/2025). Bahkan, massa yang didominasi buruh perempuan ini bertahan di depan kantor wali kota sampai malam.
“Tadi malam aksi bertahan sampai jam 22.00,” kata perwakilan buruh, Luqmanul Hakim saat dihubungi Selasa (23/12/2025).
Bacaaja: Adu Tarik UMK Kota Semarang: Buruh di 3,72 Juta, Pengusaha Ngerem di 3,64 Juta
Bacaaja: Keren Nih! Buruh Ancam Mogok kalau Tuntutan Tak Digubris
Buruh pun sepakat, aksi belum selesai. Selama belum ada itikad baik, mereka bakal lanjut turun ke jalan. Aksi lanjutan direncanakan Selasa siang. Dengan massa yang lebih banyak. Dengan semangat yang kian membara.
Mereka minta upah dinaikkan, jauh di atas angka yang lagi dibahas di meja rapat.
Tuntutan utamanya jelas. Buruh minta Wali Kota Semarang merekomendasikan UMK sesuai KHL dari Kementerian. “UMK Semarang harus Rp4,6 juta,” begitu tuntutan buruh.
Selain UMK, buruh juga menuntut UMSK. Mereka minta naik minimal 8 persen dari UMK yang sekarang. Alasannya, biaya hidup makin nggak masuk akal.
Tuntutan Rp4,6 juta ini sendiri muncul di tengah tarik ulur pembahasan upah di Dewan Pengupahan.
Dalam rapat terakhir, baru disepakati dua hal. Inflasi Jateng year-on-year September 2025 sebesar 2,65 persen. Lalu pertumbuhan ekonomi Kota Semarang 2024 di angka 5,62 persen.
Masalahnya ada di satu komponen. Namanya nilai alfa. Ini yang bikin rapat buntu. Unsur buruh minta alfa di angka 0,9. Pengusaha ngotot di 0,5. Pemerintah coba menengahi dengan angka 0,7.
Beda alfa, beda juga hasil hitungannya. Pemerintah mengusulkan jalan tengah. Angkanya sekitar Rp3,68 juta. Tapi angka itu dinilai masih jauh dari harapan buruh. (bae)


