BACAAJA, JAKARTA- Angka kematian akibat narkoba di Indonesia makin bikin merinding. Badan Narkotika Nasional (BNN) ngungkap fakta kelam: setiap hari ada 50 orang Indonesia yang meninggal gara-gara narkoba. Kalau dijumlah, itu artinya 18 ribu jiwa melayang tiap tahun.
Yang bikin makin nyesek, mayoritas korban justru dari kalangan muda usia 14-25 tahun. Iya, generasi yang seharusnya lagi produktif dan berprestasi, malah banyak yang tumbang karena barang haram ini.
Deputi Pencegahan BNN RI, Irjen Pol Muhammad Zainul Muttaqin bilang, saat ini ada 1.386 jenis narkoba baru di dunia, dan 99 di antaranya udah masuk ke Indonesia. Dari jumlah itu, 94 jenis udah diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan. Tapi tetap aja, peredaran barang haram ini nggak kenal batas.
Bahkan, cairan vape pun kini teridentifikasi mengandung narkotika jenis etomidate, zat anestesi yang di Taiwan udah dikategorikan sebagai narkotika golongan I. Jadi, vape bukan cuma soal asap wangi, tapi bisa juga jadi jalan pelan-pelan menuju bahaya.
Lebih miris lagi, setengah lebih penghuni lapas di Indonesia (52,97 persen) adalah napi kasus narkoba. Jadi, bisa kebayang kan seberapa parah jaringannya di negeri ini?
Zainul juga bilang ada “rumus” lucu tapi nyindir banget buat ngenalin orang yang udah terpapar narkoba, disebut “7 Ong Plus”, bohong, nyolong, nodong, songong, ompong, bengong, dan rempong. Intinya: semua kelakuan yang bikin hidup makin berantakan.
Masuk Kurikulum
Buat ngelawan arus ini, BNN lagi dorong program IKAN (Integrasi Kurikulum Anti Narkoba) supaya pendidikan soal bahaya narkoba masuk ke pelajaran sekolah sejak dini. Harapannya, generasi muda punya tameng kuat sebelum terlambat.
Tapi persoalan ini nggak cuma di Indonesia. Secara global, 585 ribu orang meninggal setiap tahun akibat penyalahgunaan narkoba, alias rata-rata 52 orang tiap jam!
Zainul bilang, angka kematian karena narkoba bahkan lebih besar daripada korban perang dan terorisme.
Pengamat hukum Universitas Al Azhar, Prof Suparji Ahmad juga bilang, penanganan narkoba di Indonesia belum bisa dibilang sukses. Menurutnya, pengguna seharusnya direhabilitasi, sedangkan bandar mesti dipenjara seumur hidup, biar rantainya benar-benar putus.
Sementara itu, Penasihat Ahli Kapolri Andi Subiakto ngasih peringatan keras: kalau peredaran narkoba nggak ditangani serius, Generasi Emas 2045 bisa gagal total. Ia bahkan nyentil soal lapas yang justru jadi pabrik dan markas peredaran narkoba.
Andi juga nyoroti tren jual beli narkoba online yang makin liar dan terhubung sama judi serta prostitusi daring. “Ini bukan lagi isu kriminal, tapi udah ancaman geopolitik dan geodemografi,” tegasnya. (tebe)


